Posted in Uncategorized

Advokasi Tak Harus Orasi

Advokasi Tak Harus Orasi Posted on November 9, 20171 Comment

Advokasi bagi kalangan mahasiswa adalah sebuah kewajiban, mengingat posisinya sebagai penyambung aspirasi rakyat kepada pemerintah. Kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat hingga langkah yang dianggap merugikan rakyat adalah sebuah indikator pentingnya sebuah advokasi. Selain indikator tersebut, banyak langkah dan cara yang bisa dilakukan dalam melakulan advokasi.

Menyandang status mahasiswa terutama aktivis dari sebuah organisasi, menjadikan advokasi sebagai langkah yang hukumnya fardu ain, kewajiban yang tidak bisa diwakilkan kepada siapapun.

Berbincang mengenai advokasi tentu mengupas pula cara-cara dalam melakukannya. Beda zaman beda pula langkah advokasi yang dapat dilakukan, terutama mengingat ‘zaman now‘ adalah era melenial sehingga langkah advokasi pun menyesuaikan kondisi yang ada.

Penulis pernah membaca sebuah kalimat ‘membacalah agar kau mengerti, berbicaralah agar kau didengar dan menulislah agar kau dikenang’. Sehingga tren advokasi kini menurut hemat penulis tidak hanya bisa dimulai dari sebuah toak yang menghasilkan suara orasi. Namun, bagaimana mengemas suara orasi yang diabadikan pada sebuah tulisan, baik melalui media sosial maupun media massa. Sehingga bisa diketahui dan dipahami lebih banyak orang dari pada hanya berbicara.

Pergerakan advokasi kini lebih condong pada pemanfaatan media sosial, mengingat efektivitas dan kemudahan akses sosial media yang ada.

Menulis kritik atau sebuah wacana pada sosial media dirasa lebih efektif terutama dari segi biaya, karena tidak membutuhkan biaya yang cukup banyak. Selain itu, jangkauan konsumen dari tulisan yang kita angkat akan lebih luas dan tidak terbatas. Hal ini tentu berbeda ketika kita melakukan orasi, jangkauan hanya terbatas pada mereka yang melihat secara langsung, atau bisa lebih luas dengan bantuan peliputan dari tim media.

Pun, tanpa menjadi jurnalistik seorang dapat menyampaikan gagasan maupun berita melalui akun media sosialnya. Meskipun demikian, kebebasan ini tetap memiliki batasan-batasan tertentu, seperti yang termaktub dalam UU ITE yang telah ditetapkan oleh pemerinta. Hal ini untuk tetap menjaga pengguna agar tidak berlebihan dan tetap sesuai norma dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Melalui pemanfaatan media sosial, sebuah opini yang menarik perhatian publik akan cepat viral dan seringkali menjadi tranding topic. Opini terutama yang saat ini sedang populer adalah petisi online ketika mencapai tranding topic seringkali lebih cepat mendapatkan tanggapan dari pemerintah.

Maka harapannya, aktivis-aktivis gerakan mahasiswa mulai mampu memanfaatkan sosial media dalam melakukan kegiatan advokasi. Sehingga nantinya dapat lebih mudah mencapai ‘telinga’ pemerintah dan dapat mengubah kebijakan yang dirasa kurang berpihak kepada rakyat.

Penulis : Arizal Ilhami

1 thought on “Advokasi Tak Harus Orasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *