Posted in Uncategorized

Berkarya dan Abadilah!

Berkarya dan Abadilah! Posted on November 12, 2017Leave a comment

Ingin menulis saja titik.

Manusia terlahir dengan telanjang, tidak mengenakan sesuatu yang menutupi tubuhnya kecuali cairan air ketuban yang basah pasca pecah dari perut sang ibu. Begitu juga kepalan tangannya, tidak membawa mobil, sepeda, televisi, handphone, ataupun benda ciptaan manusia lainnya. Manusia yang masih murni, sebelum tangan-tangan berdosa menodai kulit sucinya, atau bahkan manusia yang masih jernih akalnya sebelum terjajah oleh ideologi-ideologi. Teriakan tangis pertamanya disambut bahagia siapa saja yang mendengarnya. Walau suatu saat nanti kebahagiaan atas tangis pertamanya bisa jadi, menjadi caci-maki ataupun berganti bully. Siapa tahu apa yang akan terjadi ketika sudah besar nanti? Lihatlah! Seorang pejabat tinggi di suatu negara hari-hari ini ramai diperbincangkan bahkan ada yang di caci-maki di berbagai media sosial, kemudian seorang wanita cantik dianggap hina di sebuah bangunan megah berlantai tujuh di ibu kota. Tidak usah jauh-jauh! mahasiswa yang mengabdikan dirinya untuk mencari ilmu di perguruan tunggi pun tidak luput dari istilah caci-maki. Sebab di semester akhirnya ini dia belum tuntas menyelesaikan masa studinya dan masih banyak lagi jenis manusia yang tidak luput dari istilah “caci-maki/bully.” Padahal mereka semua lahir layaknya manusia pada umumnya. Mereka sama-sama keluar dari perut sang ibu, bukan dari batu. Proses persalinan ibu mereka juga seperti pada umumnya, ada yang di rumah sakit, puskesmas, maupun dengan mendatangkan bidan desa setempat. Begitu juga sebaliknya, manusia yang sering melontarkan kata-kata kebencian itu-pun lahir dari perut sang ibu, pernah suci pula pada masanya.

Memandang keadaan hari ini, pembahasan terhadap kata “persoalan dan masalah” sudah terpatri pada pribadi manusia saat ini. Bagaimana tidak, dari Sekolah Dasar kita di perintahkan “Jawablah pertanyaan/soal berikut dengan benar!” Naik ke Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, perintah itu pun tidak berubah. Jika berubah, hanyalah pada redaksinya saja bukan pada esensi. Kemudian pada bangku kuliah kita di pertemukan kembali pada pembahasan “masalah,” yaitu ketika proses penelitian akan membahas “identifikasi masalah, latar belakang masalah, batasan masalah, dan lain sebagainya.” Selain itu pada tataran pemerintah, setiap elemen pemerintahan dalam menjalankan analisa hingga evaluasi program kerja pembahasan yang paling sering dilakukan adalah “mencari akar permasalahan dari sebuah kasus.” Maka, tidak heran apabila seseorang menemukan sebuah permasalahan yang dibahas pertama kali adalah “siapa yang salah?” Berkaitan dengan kasus “caci-maki,” kelahiran adalah titik awal manusia melakukan proses hingga pada titik tertentu mereka akan menjadi subjek seorang yang dicaci-maki atau sebaliknya. Ketika membahas “siapa yang salah?” pada saat berproses, pastinya akan terkungkung pada masalah itu saja, yang dicaci-maki disalahkan karena kehinaannya dan yang mencaci-maki disalahkan karena menghina, seperti itu terus-menerus tanpa titik akhirnya.

Sebagai manusia yang berotak dan masih bisa difungsikan untuk berfikir, tentunya ingin sekali move-on dari kungkungan masalah yang telah memenuhi proses dalam hidup hingga saat ini. Berjalan meninggalkan doktrin-doktrin yang selama ini terpatri dari bangku sekolah dasar hingga dewasa ini. Dari berfikir “apa masalahnya?” diubah menjadi “apa peluangnya?” dari “siapa yang salah?” diganti menjadi “siapa yang mampu membantu menyelesaikan peluangnya?” dan seterusnya, dengan begitu akan mampu membuat sebuah manfaat tanpa mengurus masalah atau kekurangan orang lain.

Menjadi pribadi yang bermanfaat tidak lepas dari nilai-nilai atau tindakan yang telah dilakukan. Mustahil seorang yang sering mencaci-maki dan membicarakan masalah orang lain akan bermanfaat dalam hidupnya. Memperbanyak karya adalah salah satu langkah menebar manfaat kepada orang lain. Karena dengan berkarya seseorang mampu menciptakan ruang layaknya Mark Zuckerberg menciptakan Facebook sebagai ruang komunikasi di dunia maya, dengan berkarya seseorang mampu menciptakan energi seperti Nicolas Tesla dengan Elektro-Magnetiknya, dengan berkarya seseorang mampu mengubah keadaan seperti Ben Rattray mendirikan Cange.org, dengan berkarya nama seseorang akan abadi dan selalu dikenang karena manfaatnya. Maka “Berkarya dan abadilah!”

Ingin menulis saja titik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *