Posted in Desa Membangun Desa Reforma Agraria

Gerakan Desa Maju Reforma Agraria

Gerakan Desa Maju Reforma Agraria Posted on November 5, 2017Leave a comment

Penikmat kopi dan senja

sumber: nu.or.id

Desa merupakan aset terpenting untuk menitik pertumbuhan dan kemajuan disuatu Negara. Hal itupun sesuai dengan apa yang dicanangkan oleh Presiden RI, bahwa prioritas pembangunan nasional saat ini adalah desa. Bahkan hingga saat ini beberapa kebutuhan pokok warga Negara diambil atau berasal dari pedesaan, seperti hasil pertanian dan perternakan. Hal tersebut menjadi bukti bahwa desa adalah bagian terpenting dari negeri untuk dapat dinilai, sudah berada pada titik mana perkembangan dan kemajuan suatu Negara. Sehingga, bukan melulu menyoal tinggiya aktivitas perekonomian yang ditekankan pada perkotaan saja, melainkan desa juga menjadi aspek terpenting dalam pertumbuhan dan kemajuan suatu Negara.

Membincangkan soal desa, tentu tak bisa dipisahkan dengan aktivitas atau sector pertanian dan perternakan, mengingat hal tersebut yang sudah melekat pada desa. Terlebih lagi, dibeberapa daerah, usaha-usaha pertanian dipedesaan sudah menjadi penghidupan utama bagi masyarakat atau keluarga petani itu sendiri. BPS mencatat bahwa petani Indonesia pada tahun 2015 telah memproduksi padi atau gabah kering giling sejumlah 75.397.841 ton per 14.116.678 hektar luasan lahan panen. Namun, angka yang besar tersebut belum mampu menjadikan Indonesia sebagai Negara yang berkedaulatan pangan. Disatu sisi, meskipun angka hasil produksi yang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan, ada hal yang kemudian penulis rasa menjadi permasalahn dikemudian hari. Pertama, karena konsentrasi penguasaan dan pengelolaan tanah di desa-desa diorientasikan untuk perkebunan, pertambangan, kehutanan hingga perindustrian, membuat  lahan-lahan pertanian rakyat berganti dan memaksa petani keluar dari usaha taninya. Kedua, kondisi sosial, ekonomi, hukum, ekologis untuk kelanjutan hidup petani semakin merosot dan semakin lama nilai pasar atas pertanian rakyat semakin kecil. Maka yang benar-benar menjadi tantangan berikutnya adalah “bagaimana kondisi pertanian dan desa dikemudian hari?”, mengingat sensus pertanian 2003 – 2013 mencatat terjadi lenyapnya lahan pertanian (menyusutnya lahan yang dikuasai petani) juga lenyapnya petani dan 56% petani di Indonesia adalah petani gurem (petani yang menguasai <0,5 ha) dan petani tuna tanah. Lantas, bagaimana mendorong pertanian Indonesia dalam rangka memajukan dan meningkatkan desa serta Negara ?

Dengan mencoba mengaitkan reforma agraria sebagai gerakan untuk memajukan desa hingga Negara, tentu nantinya rakyatlah yang menjadi pemeran utama dalam suksesi gerakan tersebut (reforma agraria berdasarkan inisiatif rakyat). Reforma agraria bertujuan untuk menata kembali struktur penguasaan lahan yang dirasatidak menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan yang itu diperuntukkan bagi petani kecil dan petani gurem dengan prinsip mendorong tata kuasa, tata guna, tata produksi, tata distribusi, dan tata konsumsi. Untuk mensukseskannya diperlukan perangkat-perangkat, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Gunawan Wiradi mengenai gerakan reforma agraria ini, bahwa (1) organisasi tani yang berbasis kasus harus menjadi berbasis territorial, (2) gerakan rakyat dari bawah yang sadar dan kritis, (3) terbentuknya pusat-pusat produksi dan ekonomi secara kolektif, dan (4) mempertegas perjuangan reforma agraria secara utuh dan genuine. Karena kesemua hal tersebut berdasarkan semangat dasar UUPA 1960 yang anti feodalisme dan kapitalisme, kerakyatan dan keadilan sosial, fungsi sosial tanah, penggarapan tanah aktif oleh pemilknya sendiri, mencegah usaha yang bersifat monopoli swasta, dan usaha bersama dilapangan agraria.

Desa maju refoma agraria ini merupakan desa yang secara sosial, ekonomi, budaya, dan politik bekerja dalam kaidah-kaidah pelaksanaan reforma agraria. Juga tujuannya adalah untuk menguatkan kontrol, akses, manajemen produksi petani serta komunitas desa atas sumber agraria dan desanya, sekaligus menjamin keberlanjutan hidup petani. Dengan cita-cita besar dari desa maju reforma agraria ini adalah terciptanya transformasi sosial yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat terkhusus keluarga petani ataupun petani gurem.

Adapun skema atau perencanaan tentang tata kuasa, tata guna, tata produksi. Tata distribusi, dan tata konsumsi adalah tahapan sebagai sarana penunjang yang paling utama dalam gerakan reforma agraria. Tata Kuasa merupakan penataan ulang struktur penguasaan serta pemilikan atas tanah yang berkeadilan dan mensejahterakan dengan penguasaan atas hak dan jaminan pemilikan secara individu ataupun kolektif. Hal terebut diindikasikan dengan adanya perubahan atau perbaikan relasi kuasa terhadap tanah, kemudian diakui dan diperkuatnya hak pemilikan rakyat atau penggarap melalui hak individual atau hak kolekti atau kombinasi individual-kolektif.

Tata guna tanah berdasarkan pemanfaatan dan peruntukan tanah yang mencerminkan kebutuhan, corak kebudayaan, dan identitas masyarakatnya dengan memastikan penggunaan tanah berdasarkan kesepakatan secara kolektif atau musyawarah mufakat. Sementara, hal tersbut diidikasikan dengan adanya optimalisasi penggunaan tanah secara berkelanjutan, yang artinya peruntukan dan penggunaan tanah sebagai alat produksi serta fungsi-fungsi sosial yang mengedepankan kearifan lokal daerah.

Tata produksi, distrbusi, dan konsumsi ini merupakan satu rangkaian (tata kelola) yang linier. Artinya, corak produksi hingga konsumsi berbasiskan kebersamaan, solidaritas, gotong royong, dan egaliter. Hal tersebut berkaitan dengan pengusahaan bersama ini adalah untuk menciptakan pusat-pusat produksi baru secara kolektif dilapangan agraria. Pengusahaan tersebut diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat secara mandiri, termasuk upaya mencapai surplus produksi. Sementara, masih ada gejala penyakit yang laten, bahwa ketergantungan petani terhadap tengkulak masih cenderung tinggi dan tak tergantikan. Maka gerakan reforma agraria inilah yang nantinya akan berupaya untuk memutuskan rantai tersebut dengan pengusahaan tata kelola secara kolektif. Karena tata kelola ini mencitakan agar petani secara kolektif dan mandiri dapat mengontrol pemasaran atau distribusi dari hasil produksi mereka, juga sekaligus menciptakan jaringan pasar sendiri.

Dalam rangka mengoptimalisasikan gerakan ini, tentunya masyarakat juga harus turut berparitsipasi dalam mendorong Negara untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang itu berkaitan kesejahteraan dan kemajuan bagi desa, khususnya bagi pertanian dan keluarga petani. Karena bagaimanapun juga, masyarakat juga peran sertanya adalah faktor yang paling menentukan bagaimana pengembangan desa nantinya.

 

*Penulis: Mohammad Izzuddin

Penikmat kopi dan senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *