Posted in Uncategorized

Hedonisme Yang Telah Membumi

Hedonisme Yang Telah Membumi Posted on November 2, 2017Leave a comment

Tidak selamanya lingkungan perkotaan mewariskan kenyamanan dan ketenangan. Juga tidak dipungkiri bahwa suasana pedesaan mampu memberikan ketenagan. Hidup dilingkungan perkotaan, atau hanya di pojok kota—aqsol madiinah, akan membangun nuansa hedonism. Hedonism dalam pengertian sederhananya adalah kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan hidup. dan ternyata kenikmatan tertinggi kata Epikuros adalah dengan hidup sederhana. Harapan epikuros dengan realitas sekarang sudah berbalik 180°.

Sebagaimana kita saksikan, wabah hedonism tidak melulu menyerang mereka yang tidak terpelajar, akhir-akhir ini justru berkebalikan. Hedonisme telah dengan lenggang masuk pada instansi pendidikan, mulai basics sampai tertinggi, pun yang berlatar belakang agama atau umum. Jika sudah demikian, apakah sebaiknya hedonism dijadikan pedoman hidup? karena memberontak dengan kebiasaan yang sudah melenggang akan dilebeli kolot dan terbelakang.
Hedonism yang dibenci oleh nalar waras saja begitu mampu menguasai kenyataan hidup, lalu kenapa kesederhanaan yang dicita-citakan akal sehat justru mental dari realitas kehidupan? Adakah yang salah dengan ketidak nyamanan hati nuraninya para filsuf bahwa hedonism hanyalah mewariskan kedengkian antar sesame manusia. Sebagaimana yang saya singgung diatas, jika instansi pendidikan saja masyarakatnya adalah pelaku kriminalitas akal sehat, bagaimana dengan sebaliknya?

Lembaga pendidikan, baik pergurungan tinggi maupun tingkatan yang ada dibawahnya, seharusnya mampu menangkal serangan hedonism. Karena jika tidak, korbannya adalah masyarakat instansi tersebut. Jika sejak dalam rahim pendidikan saja mereka telah ingkar dengan akal sehat, bagaimana ketika sudah menjadi alumni? Bukankah ukuran baik tidaknya lembaga adalah dilihat dari alumninya? Saya kira, tidak perlu ada apresiasi yang besar bagi penduduk lembaga pendidikan yang berlaku baik, karena lingkungan pendidikan memang mewariskan kebaikan pada tabiat setiap masyarakatnya.

Hedosnime saat ini walaupun sudah membumi, akan tetapi belum mengakar. Tentu masih ada kesempatan bagi setiap kita menangkalnya, atau mengikisnya. Jika ada yang bertanya, apakah Hedonisme bertentangan dengan agama, tentu bertentangan. karena diutusnya Nabi-Nabi kita semua adalah untuk kesederhaan, bukan pamer harta dan kekayaan. Dampak kesenjangan sosial yang kian meroket, mewariskan tidak digunakannya akal sehat. Jika akal tidak digunakan, maka tidak ada jaminan ia menjadi cerdas dhohir-bathin.

Hedonism sejatinya tidak memaksakan dirinya masuk pada setiap akal manusia, tetapi manusia sendirilah yang dengan rela menyerahkan akal sehatnya untuk di obrak-abrik akan hedonism.

Hedonism bukan tuntutan zaman, melaikan hanya tuntutan gensi kehidupan. Kerana hidup tidak selamanya hidup, baik kiranya jika kita saling mengingatkan dan menasihati.

Semoga kita senantiasa dalam bimbingan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *