Posted in Uncategorized

Indahnya Toleransi

Indahnya Toleransi Posted on November 16, 2017Leave a comment

Indonesia merupakan negara yang terbentuk dari berbagai suku, ras, budaya, bahkan agama yang beragam. Indonesia salah satu negara yang memiliki penduduk terbanyak di dunia yang kini mencapai 250 juta jiwa. Dari jumlah tersebut masing-masing memiliki agama dan kepercayaan yang beragam. Menurut hasil sensus penduduk tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia pemeluk agama Islam, 6,96% Protestan, 2,9% Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha, 0,05% Kong Hu Cu, 0,13% kepercayaan lainnya, dan 0,38% tidak dinyatakan. Kebebasan dalam beragama atau kepercayaan sudah diatur dalam UUD 1945 yang berbunyi “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaann” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya. Tetapi pemerintah secara resmi hanya mengakui enam agama di atas.

Dengan banyaknya agama maupun kepercayaan di Indonesi, seringkali gesekan atau konflik antar umat tak bisa dihindarkan. Lebih-lebih pada ahir-ahir ini berkaitan dengan kepemimpinan politis seringkali orang memakai isu agama untuk menyudutkan salah satu pihak guna mendapatkan simpatisan untuk pihak yang lain. Miris memang melihatnya ketika urusan politis, agama digunakan alat untuk mendapatkan kekuasaan. Bukan hanya masalah politis sikap saling tidak menghargai perbedaan pun kini sering kita temui dilingkungan kita dalam kehidupan sehari sehari-hari. Padahal dimata dunia, Indonesia dipandang sebagai salah satu negara yang paling toleran. Tetapi nyatanya saat ini sikap-sikap intoleran mulai berkembang dimasyarakat Indonesai yang itu sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak hanya masalah berbeda agama, saat ini sikap intoleran sudah merasuk lebih jauh, perbedaan organisasi dalam satu agama saja kini sering kita temui membuat orang bersikap intoleran.

Sudah menjadi hal yang biasa saat ini menyalahkan orang lain yang tidak sesuai dengannya. Padahal dalam agama Islam sendiri, Allah telah berfirman dalam Al-Qurar surat Al-Baqarah ayat 256 yang artinya “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Seruan ayat tersebut ditujukan kepada orang yang kafir, maka orang muslim tidak boleh memaksa dan menghakimi mereka, karena Allah telah memberinya pilihan beriman maupun tidak beriman.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pula kita memiliki Pancasila sebagai pemersatu perbedaan-perbedan tersebut. Sebagaima dahulu dalam perumusannya, Presiden Soekarno mengusulkan penggantian redaksioanal pada pasal satu yang ahirnya disepakati menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal itu dilakukan guna menghargai agama dan kepercayaan selain Islam yang ada di Indonesia. Memang Islam sebagai agama mayoritas, tetapi kita tidak boleh mengenyampingkan yang lainnya. Presiden Soekarno pula yang menggagas berdirinya Masjid Istiqlal sebagai Masjid terbesar di Indonesia dibangun bedampingan dengan Gereja Katedral, hal itu juga ditujukan sebagai simbol toleransi. Gus Dur sangat dikenal sebagai bapak toleransi pernah berkata “kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, orang tidak bertanya apa agamamu”. Dari pernyataan Gus Dur tersebut jelas bahwa dalam hal sosial dan bernegara orang tidak akan menilai apa agamamu, yang terpenting adalah apa manfaatmu untuk orang lain.

Dihari toleransi internasional ini semoga Indonesia tetap menjadi negara yang mempunyai sikap toleransi tinggi antar masyarakatnya. Karena tentunya negara ini tidak akan bisa menjadi besar tanpa adanya persatuan antar warganya. Dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan selamat kepada penganut aliran kepercayaan yang secara resmi telah diakui di Indonesia selain enam agama di atas. Semoga hal itu menambahkan rasa toleransi antar agama maupun kepercayaan di Indonesia. Kita perlu mencontoh bagaimana pemikiran-pemikiran Bung Karno maupun Gus Dur di atas dalam hal toleransi. Dengan saling toleransi dan menghargai perbedaan, maka kita akan bersatu untuk dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kita memang berbeda daerah, kita memang berbeda suku, kita memang berbeda budaya, kita memang berbeda agama, tapi kita satu INDONESIA.
Wallahu A’lam…

 

Penulis: Eko Yusup Edi Wijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *