Posted in Pendidikan Rakyat

Ironi Pendidikan dalam Negeri

Ironi Pendidikan dalam Negeri Posted on November 10, 2017Leave a comment

Sumber: https://www.lebahmaster.com/wp-content/uploads/2014/11/Pengertian-Pendidikan.jpg

“ Tut Wuri Handayani, Ing ngarsa Sung Tuladha, Ing madya Mangun Karsa”
*KI HAJAR DEWANTARA*

Teringat sebuah ungkapan kata-kata dari Bapak Pendidikan yang tertulis dalam kutipan di atas. Pendidikan merupakan sebuah wadah pencarian ilmu yang suci bagi insan akademisi, menciptakan kaum intelektual yang profesional. Pendidikan melahirkan seseorang yang awalnya tidak mengerti apapun menjadi seseorang yang mengerti dalam hal apapun. Hingga saat ini dapat dibayangkan andai saja negeri ini tidak ada pendidikan.

Pendidikan memiliki kedudukan nilai yang tinggi dan derajat yang sangat mulia. Sebab memiliki peran dalam memajukan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari sebuah bangsa yang kaya akan keanekaragaman budaya dan agama ini.

Banyak cerita dan kisah mengenai pendidikan di era sekarang. Secara keilmuan dan integritas, pendidikan dipandang indah dan nyaman. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan “Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan, merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian”. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan memang sangat berjasa dan berharga bagi bangsa dan negara. Pun akan besar pengaruhnya terhadap kemajuan bangsa, apabila dimanfaatkan secara positif.

Sebaliknya, keindahan esensi dari sebuah pendidikan seakan hilang dan musnah ketika banyak oknum yang memanfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi, lembaga partai ataupun hal-hal yang negatif lainnya. Hal yang demikian menjadi keunikan realita di negara berbendera merah putih saat ini.

Seiring berkembangnya zaman serta keberjalanan waktu, pendidikan konteks saat ini dinilai mengalami penurunan kualitas. Bahkan dapat dikatakan monoton. Soe Hok Gie dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” mengatakan,”Aku tidak mengerti keadaan di Indonesia ini, ada orang yang sudah sepuluh tahun jadi tukang becak, namun sampai dia tua tetap saja tidak meningkat-ningkat penghasilan maupun pekerjaanya. Alangkah , mencekam kebekuan fikirannya, dia menyerah dan pasrah terhadap keadaan”.
Pernyataan tersebut dapat pula menjadi gambaran realitas dunia pendidikan saat ini. Sejak zaman Bung Karno, Soeharto dan seterusnya, sampai detik ini sudah berapa ribu dunia pendidikan mencetak wisudawan-wisudawati. Mulai dari SD, SMP, SMA sampai sarjana. Tetapi tetap saja keadaan bangsa ini, mayoritas masih berada di bawah keterbatasan dan penyimpangan. Tetap terlihat orang yang berkuasa semakin leluasa menindas dan membodohi, orang kecil semakin terhimpit dan terbodohi.

Tanpa disadari ternyata pendidikan malah melahirkan orang-orang licik tak bermoral yang tidak mampu menjalankan nilai-nilai pendidikan yang didapatkannya. Sudah banyak contoh orang yang mempunyai background pendidikan tinggi, mulai dari orang biasa sampai pemegang gelar pejabat negara, pun terjerat dalam kasus-kasus pelanggaran hukum. Ketika nama pendidikan yang sering disebut sebagai pencetak kaum intelektual yang berkualitas, sekarang sudah beralih menjadi pencetak kaum hedonis maupun kaum kapitalis atau bahkan manusia-manusia pelanggar hukum.

Sudah banyak korban yang merasakan penyimpangan dari makna pendidikan. Mereka yang terlantar mulai dari pengemis, asongan, pengangguran atau yang lainnya. Adalah contoh kecil dari korban yang merasakan penyimpangan tersebut. Mereka banyak hidup di pinggir jalan maupun di tempat-tempat yang menurut mereka nyaman. Namun bagi mereka, tempat yang menjijikkan adalah tinggalnya orang-orang berdasi dan duduk di depan meja istananya yang mewah dan megah.

Suatu ketika pernah saya berbincang dengan salah satu tukang asongan yang hidupnya juga di pinggir jalan. Banyak yang mereka ceritakan tentang kehidupanya. Perjuangan 7 tahun mempertahankan hidupnya dengan mencari sampah-sampah di jalan hingga menjadikan sampah sebagai penghasilan utamanya untuk bertahan hidup saat ini.
Saya menarik kesimpulan dari pernyataan yang mereka katakan, bahwasanya para orang-orang terlantar maupun pengangguran yang hidup di pinggir jalan mayoritas adalah orang yang pernah menjalani sekolah namun putus di tengah jalan karena sudah tidak mampu lagi membiayai administrasi sekolah. Ada juga yang mengatakan meskipun sudah lulus sekolah itu percuma, karena masuk ke dalam dunia kerja sekarang hanya milik orang yang mempunyai uang atau yang berasal dari sanak keluarganya sendiri.
Dalam pernyataan tersebut, saya berfikir bahwa pemerintah sebenarnya sangat mudah menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh masyarakat di bawah keterbatasa. Karena sebetulnya andai pembagian beasiswa pendidikan yang digadang-gadang di negara ini selalu mengalir dalam dunia pendidikan bisa merata dan berjalan dengan sebagaimana mestinya, pastilah orang-orang tersebut dapat melanjutkan dan merasakan pendidikan lagi dan dapat merasakan kesempurnaan hidup yang sesungguhnya. Sayangnya di negara ini, hal seperti itu sudah menjadi budaya yang melekat bagi orang-orang terhormat dengan membiarkan orang-orang yang terlantar, pengemis, pengangguran, asongan yang putus melanjutkan jenjang pendidikan ini untuk tetap bertahan hidup di bawah keterbatasan.

Banyak kasus pengaliran beasiswa pendidikan saat ini menjadi salah sasaran ataupun salah orang. Terkadang mayoritas orang yang di katakan mampu dan mempunyai kedudukan mendapatkan beasiswa dalam pendidikan. Sedangkan orang-orang tidak mampu hanya pasrah menerima keadaan dan kenyataan untuk tidak merasakan nikmatnya pendidikan karena hal-hal menyimpang yang dilakukan oleh oknum-oknum yang mencari kenyamanan dirinya sendiri.

Inilah yang dimaksud dengan kemerosotan nilai-nilai pendidikan, degradasi nilai-nilai moral, budaya , agama maupun hukum di Negara ini.
Mengutip sedikit lirik dari salah satu band musik yang bergenre punk,
”Bagi kami kreasi bukan tradisi,
melainkan harta yang tak terbeli,
dan bagi kami jalanan adalah sekolah,
tapi ingat jangan anggap kami sampah”.
Kata-kata yang sangat bermakna bagi keadaan yang memprihatinkan saat ini.

Saya pernah mendapatkan satu pernyataan, dari salah seorang (orang banyak menyebutnya dengan panggilan) anak punk yang kehidupan sehari-harinya juga di jalanan,”Kami sudah menentukan jalan hidup kami, disinilah kami akan bertahan hidup, disinilah kami akan mencari jalan pendidikan, disinilah kami bersekolah, disinilah kami berkreasi, disinilah kami memaknai hidup yang sebenarnya tanpa adanya kepalsuan dan tekanan, karena hidup di negara ini keras dan penuh dengan penyimpangan, kecurangan dan ketidak adilan. Satu pesan saya untuk orang-orang yang senasib merasakan kehinaan sistem di negara ini, JANGAN PERNAH BERHARAP KEPADA NEGARA !!”. Sebuah pernyataan yang mungkin menjadi luapan emosi kekecewaanya terhadap sistem yang berjalan di negara ini.

Entah harus dikatakan maupun dinyatakan apalagi keadaan negara ini, khususnya dalam pendidikan. Keadaan yang mungkin membuat merintih dan menangis para pejuang kemerdekaan terdahulu melihat tanah air bangsa Indonesia saat ini. Politik, agama, sosial dan budaya, seakan sudah tidak mempunyai nilai positif dan moral lagi. Tidak menyalahkan pendidikan, tidak menyalahkan orang yang menempuh dunia pendidikan. Tapi yang jelas pendidikan saat ini sudah kehilangan nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan itu sendiri. ”Terus terang, aku ingin sekali bertemu sendiri dengan Nabi Muhammad dan ingin mengajaknya untuk hidup di abad saat ini, aku sudah kurang percaya pada orang-orang yang disebut pewaris-pewarisnya”. Ungkapan Soe Hok Gie dalam catatan seorang demonstran.

Pendidikan pada hakikatnya mempunyai nilai tawar yang sangat tinggi untuk kemajuan bangsa ini. Apabila diimplementasikan dengan sebenar-benarnya tanpa adanya penyimpangan-penyimpangan. Orang belajar politik, agama,sosial, maupun budaya pastilah melalui jalur pendidikan. Pendidikan pulalah yang mempunyai peran penting dalam memaksimalkan nilai-nilai sosial, politik maupun budaya. Dan sebenarnya para pemimpin negara ini juga yang bisa merubah keadaan ini semua. Sebab merekalah yang sudah dipilih dan diberi amanah oleh seluruh rakyat Indonesia untuk memimpin negara ini.

Semoga para pemimpin di negara ini selalu diberi ketegasan dan selalu menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Tanpa adanya kecurangan, penyimpangan dan ketidak adilan. Agar tidak semakin banyak pengangguran yang terlantar di pinggir jalan. Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan bisa diamalkan dengan baik dan maksimal bagi orang yang menempuhnya. Serta Tuhan memberikan kekuatan dan kenyamanan dalam menjalani hidup kepada orang-orang yang hidupnya masih berada di bawah keterbatasan dan kesengsaraan. Aminn..
Satu ungkapan kata dari saya, “Aku cinta negeri ini, tapi aku benci sistem ini, semua serba politis, pendidikan tinggi tak berarti”.

Wassalam..

Penulis: Ghofar Ali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *