Posted in Opini

Kesadaran Menumbuhkan Kebebasan

Kesadaran Menumbuhkan Kebebasan Posted on December 5, 2017Leave a comment

sumber: www.google.com

 

Tumbuh dan berkembang adalah sebuah keharusan dalam pribadi seseorang. Melakukan interaksi dengan sikap baik dan buruk adalah pilihan antara abstrak dan absurt serta realita dan rasional butuh kejelihan. Bahasa analisis pertimbangan untuk membuktikan sebuah kepastian. Perjalanan terus berlalu dengan poros waktu. Kekuasan menjadi doktrinisasi, pencucian otak hingga harapan tidak lagi ada.  pengkajian, analisis serta pertimbangan dibiarkan tergerus sia-sia, inikah pembebasan dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal sepele dijadikan iming keterbatasan.

Perkataan dijadikan acuan, disimpan dalam pikiran lalu digembok rapat-rapat dan diisi dengan aturan-aturan konyol. Sebenarnya masih saja mau bertindak akan tetapi kekhawatiran berlebih yang menjadi pertimbangannya. Hingga pada akhirnya menjadi perdebatan hebat antara bertindak dan tidak dalam dirinya. Mimpi yang di rekayasa untuk tak seindah dan semegah yang seperti diri sendiri impikan, sebab segalanya yang terlahir dari diri sendiri akan mendapatkan nilai tertinggi maskipun itu tidak dapat terlihat oleh orang lain. Atas dasar nilai yang menjadikan bukti bahwa setiap kesadaran dengan pola pikir dan gerak melakukan sebuah nalar intelektual dan mentalitas yang tidak pernah tergoyahkan oleh siapapun. Sejak inilah memang perlu adanya sebuah penanaman prinsip agar tidak mudah terprovokasi yang pada akhirnya nanti menjadi sebab hilangnya jati diri.

Merupakan suatu hal yang buruk, bahwa menghilangkan jati diri seorang yang katanya Intelektul dihamburkan dengan menyandang identitas kepercayaan diri tanpa menyadari perbudakan sedang dimainkan. Kesadaran dijadikan ambisi dengan ketidak stabilan rasio dan perasaan. Ini mungkin adalah sebuah tawaran khas yang muncul berdasarkan pertimbangan untuk berinteraksi lebih jauh dengan orang banyak seperti yang pernah Socrates ungkapkan, “Aku percaya ketika sudah memikirkannya”. Telah jelas tanpa ada pengkajian lebih jauh serta dialog antara pikiran dan hati mengenai pernyataan seorang hanyalah sebatas simbol. Bagaimana simbol? Yah simbol adalah tanda baik atau buruk serta adil atau tidak itu berlangsung dengan pilihan yang tentunya segalanya setiap pilihan berdasarkan pertimbangan dan efek baik tidaknya bagi orang banyak.

Perlu di garis bawahi, Ini Negeri Demokrasi dengan etos kerja kebebasan berpendapat dan hak pribadi dibatasi dengan hak orang lain serta sesekali tidak pantas menjadikan diri dikuasai yang lain. Jati diri perlu dibentuk dan dikembangkan berdasarkan wawasan untuk membuktikan pencarian kecerdasan yang didapat dalam ranah pendidikan. Bukan lantas menerima apa yang diberikan seseorang mentah-mentah tanpa ada proses memilah apa yang hendak dikonsumsi, sedangkan tak mengetahui dengan apa yang diterima itu. Bergerak dan maju lepas dari rantai kekangan yang membusukkan adalah kepastian mewujudkan perubahan besar dengan jalan berliku dan terjal merupakan bukti pembelajaran bahwa esok tidak lagi melangkah dijalan yang sama. Hari nanti tetap saja seperti sekarang jika tidak dilakukan tindakan-tindakan militan yang menunjukan bukti adanya sejarah perubahan.

Sebagai para pejuang kebebasan perlu mengerti dengan keadaan, karena keadaan yang akan menunjukkan gambaran pada setiap objek dalam mengutarakan kebebasan (John S. Mill, 1996). Pertama, kebebasan yang mencakup bidang kekuasaan batiniah, kesadaran yang menuntut kebebasan suara hati dalam arti yang paling luas, yaitu pebebasan dalam berpikir dan merasakan, kebebasan mutlak berpendapat dan sentimen untuk segala hal yang praktis atau spekulatif, ilmiah, moral ataupun teologis. Kebebasan untuk mengungkapkan dan mengumumkan pendapatnya. Kedua adalah kebebasan yang terkait dengan kekuasaan individu, bahwa kepribadian perlu adanya perluasan prinsip dasar untuk menciptakan pribadi yang kokoh akan pendirian. Ketiga adalah kebebasaan yang sifatnya berhubungan dengan orang lain. Dari ketiga kategori kebebasan tersebut, John S. Mill menyatakan, bahwa kebebasan individu yang dialami seseorang mengimplikasikan adanya sebuah pertanggungjawaban, karena pada dasarnya individu tidak terlepas dari hubungan sosial kemasyarakatan.

Setiap manusia mempunyai sebuah tujuan. Sederhananya, tujuan dari hidup manusia adalah meraih sebuah kebahagiaan, sedangkan kebahagian tidak dapat dicapai ketika sesorang tidak mengaktualisasikan dalam sebuah tindakan, dalam bentuk kebebasan manusia. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan seseorang, bahwa seseorang yang arif bijaksana, berfikir sendiri, berbicara berdasarkan pemahamannya sendiri dan menyatakan apa yang dikatakan olehnya dan juga ia mengetahui mengapa ia menyatakannya, dengan dibandingkan dengan seseorang yang dangkal pemikirannya yang hanya ikut-ikutan dan hanya mengulangi apa yang dikatakan orang lain. Kebebasan manusia akan berhadapan pada suatu batas. Hal ini yang kemudian mengharuskan seseorang untuk memutuskan sebuah pilihan. Pada saat manusia memilih atau jatuhnya keputusan, muncullah ke-aku-an manusia, karena pada dasarnya manusia menghendaki diri secara otonom sejak pertama ia meng-aku-i dirinya sendiri. Ia menerima faktanya sendiri dan menjadi dirinya sendiri dengan keunikannya. Ia bersifat otonom dan berdikari.

Menurut Karl Marx (1984), manusia mempuyai hak untuk bertindak maju kedepan, kerena manusia harus yakin dan berani menciptakan dirinya sendiri sebagai majikannya. Artinya bagaimana manusia sebagai individu yang mempunyai totalitas untuk mampu melakukan secara total hubungan dengan dunia, mampu melihat, mendengar, berfikir dan berkehendak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *