Posted in Uncategorized

Mahasiswa Prise Junkis

Mahasiswa Prise Junkis Posted on November 4, 20171 Comment

Mahasiswa takut dengan dosen/
Dosen takut dengan dekan/
Dekan takut dengan rektor/
Rektor takut dengan menteri/
Menteri takut dengan presiden/
Presiden takut dengan mahasiswa//
(Takut 66, Takut 98)

Bait di atas adalah petikan puisi karya Taufiq Ismail yang menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan mahasiswa. Penguasa nomor satu di suatu negara mampu ditakut-takuti oleh golongan yang bernama mahasiswa. Runtuhnya rezim orde lama dan tumbangnya orde baru adalah dua contoh familiar tentang betapa besar kekuatan mahasiswa yang sanggup melengserkan penguasa. Mengutip tulisan Ahmad Siboy (2014), peran mahasiswa tidak hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara lain sepak terjang pemuda terpelajar kerap mengisi panggung-panggung pelengseran rezim penguasa otoriter. Seperti revolusi Rusia pada tahun 1917 yang melibatkan kelompok pemuda terpelajar, Revolusi di Filipina menumbangkan rezim Marcos, juga runtuhnya rezim Franco di Spanyol.

Di Mesir, baru-baru ini kita dengar runtuhnya rezim Husni Mubarok dimana mahasiswa ikut andil dalam menyuarakan demokrasi. Di Tunisia, mahasiswa menjadi pengibar bendera atas runtuhnya penguasa Zine Den Ben Ali. Itu menunjukan betapa dahsyatnya kekuatan mahasiswa yang mampu menakuti para penguasa.

Namun, sajak di atas juga mengungkapkan sisi lain mahasiswa. Mahasiswa yang ditakuti oleh penguasa sangat mungkin untuk diputar balik arah. Dengan suatu sistem yang mengikat penguasa mampu membungkam kekuatan mahasiswa. Seperti halnya ketika orde baru, kekuatan birokrasi dioptimalkan untuk membatasi gerak mahasiswa. Atas nama moral dan standar pendidikan, kebijakan NKK/BKK mampu melemahkan mahasiswa. Meletakkannya di bawah kontrol penuh birokrasi kampus, dosen, dekan, rektor dan perangkatnya. Hal ini adalah sisi lain yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah mahasiswa.

Sedemikian sisi kuat-lemahnya mahasiswa bukanlah momok sehingga dijadikan alasan bagi mahasiswa untuk tidak lagi produktif. Di samping rezim orde lama sudah tidak lagi berkuasa, kebijakan NKK/BKK sudah tidak lagi dipergunakan (kecuali di beberapa Perguruan Tinggi yang masih menggunakanya). Karena itu, hal tersebut bukan lagi suatu alasan sehingga mahasiswa berhenti dari tugas mengawal cita-cita kemerdekaan. Sederhananya, mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang menurut Arizal Mutahir (2011), adalah seseorang yang baginya aktifitas berpikir, meneliti, dan perjuangan mengubah tatanan dunia yang kacau adalah sebagai bentuk kerja. Tentunya segala macam kelemahan bukanlah cacat yang menjadikan mahasiswa berhenti bertugas.

Sejarah telah mencatat gerak dan hasil perjuangan mahasiswa. Sudah tidak terhitung tesis-tesis yang mengungkap kehebatan mereka. Rak perpustakaan dipenuhi kisah peran penting perjuangan mereka. Pujian dan sanjuangan kepada mahasiswa tersebar di semua media. Namun, dengan kisah sukses mahasiswa pada masa lampau, menjadikan kondisi yang dihadapi mahasiswa sekarang berbeda. Secara psikologis, pujian dan sanjunagan berlebih akan membentuk mahasiswa bermental prise junkis, yaitu berjuang atas tuntutan pujian dan untuk memperoleh sanjunagan. Bukan lagi berjuang atas dasar ketidak-adilan. Reword memang diperlukan untuk kebaikan, namun jika pujian terus-menerus diberikan, maka mendapat pujian akan melampaui dari tujuan mahasiswa itu sendiri.

Wajar, saat ini banyak mahasiswa menjadi gila hormat dan pujian. Seperti, aksi demonstrasi demi dimuat dalam media, nama organisasinya dimuat di media yang kemudian dibaca dan dikenal semua orang. Aksi yang dipenuhi massa selfie, diupload di instagram, you tube, facebook, dan sebagainya. Membuat kegiatan lalu di share di berbagai media hanya untuk mendapatkan eksistensi. Diskusi-diskusi dihiasi nostalgia kesuksesan masing-masing organisasi. Kondisi demikianlah yang perlu kita renungkan kembali. Karena antara idealisme dan egoisme hampir tak ada garis yang membedakanya.

1 thought on “Mahasiswa Prise Junkis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *