Posted in Filsafat

Manusia Indonesia Seutuhnya

Manusia Indonesia Seutuhnya Posted on November 7, 2017Leave a comment

Ilustrasi gambar oleh: Dwi Purbo Yuwono

Manusia harus dipahami dari segala unsur secara integral untuk mengungkap hakikat manusia dalam keseluruhan kodrat hidupnya, makna, dan eksistensinya. Sunoto (1985: 3) menyatakan pada hakekatnya kemanusiaan adalah bawaan kodrat manusia, karena kemanusiaan adalah sifat atau ciri kodrat manusia. Penjelmaanya dapat kita lihat pada tindakan manusia yang dapat kita nilai sesuai dengan kemanusiaan atau tidak. Manusia memiliki akal budi dan kehendak yang harus berkembang secara terus-menerus untuk menjadi manusia yang mencapai tujuan eksistensinya. Dalam mencapai perkembangan yang wajar, manusia tidak mungkin mencukupinya secara individu melainkan membutuhkan bantuan dari manusia lain.

Bangsa Indonesia merupakan sebagian kecil dari bangsa-bangsa lain di dunia, sehingga menurut Soekarno sangat penting meletakkan dasar kemanusiaan. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang berdiri sendiri (Chauvinisme). Antara nasionalisme dan internasionalisme bersifat korelatif. Internasionalisme tidak akan tumbuh subur kalau tidak berakar pada buminya nasionalisme, begitupula nasionalisme tidak akan tumbuh subur kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme. Dengan begitu akan timbul sebuah pertanyaan, siapa sebenarnya manusia Indonesia? atau lebih tepatnya seperti apakah kemanusiaan yang dijunjung Indonesia sebenarnya?

Membahas tentang kemanusiaan tentu akan merujuk kepada sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Untuk mampu memahami hakekat kemanusiaan yang adil dan beradab, maka perlu dicari terlebih dahulu kedudukan manusia dalam suatu negara. Dalam merealisasikan harkat dan martabatnya, manusia tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan berbagai elemen sosial. Hakikat kedudukan manusia dalam negara bersifat sentral. Manusia adalah subjek pendukung pokok negara, objek dalam realisasi pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, serta sebagai tujuan dari suatu negara.

Pemahaman manusia bagi bangsa Indonesia menjadikan Indonesia memiliki karakter tersendiri. Dalam rumusan sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” hakikat manusia bersifat sentral dalam falsafah negara Indonesia. Pancasila sebagai falsafah negara memiliki susunan lima sila yang merupakan suatu kesatuan yang mutlak bersifat kodrat manusia ‘monodualis’. Kata kunci dari sila ke-dua ini adalah kemanusiaan, sedangkan esensinya adalah manusia. Sehingga manusia merupakan inti dari sila ‘kemanusiaan yang Adil dan Beradab’. Manusia merupakan subjek pendukung, objek dalam realisasi pelaksanaan, serta tujuan negara. Dengan begitu manusia merupakan subjek pendukung pokok dasar negara.

Hakikat kodrat manusia Indonesia Menurut Notonegoro dalam Kaelan (2013: 233) tersusun dari tiga unsur yaitu susunan kodrat, sifat kodrat, serta kedudukan kodrat yang masing-masing adalah monodualis. Pertama, Susunan kodrat manusia sebagai makhluk monodualis adalah jiwa dan raga. Raga merupakan badan atau tubuh manusia yang bersifat kebendaan yang bersifat fisis anorganik dan kimiawi. Sehingga dalam raga manusia mengandung unsur tumbuhan (tumbuh berkembang) dan unsur binatang (naluri). Kemudian jiwa yang bersifat kerohanian; yang bersifat empiris dan tidak berwujud. Kedua, sifat kodrat manusia sebagai makhluk monodualis individu dan sosial. Sebagai manusia individu yang bersifat perseorangan, manusia memiliki hak dasar yang bersifat universal dan fundamental. Sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat merealisasikan potensinya tanpa adanya manusia lain. Ketiga, Kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk monodualis berdiri sendiri dan makhluk Tuhan. Makhluk berdiri sendiri yaitu manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki eksistensi/pribadi sendiri. Sedangkan makhluk Tuhan, manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan merupakan sebab pertama (causa prima).

Menurut pandangan yang utuh, hakikat manusia ialah monopruralis (majemuk tunggal) dari keseluruhan unsur-unsur hakiki yang berpasang-pasangan monodualis jiwa-raga, monodualis individu-sosial, serta monodualis makhluk Tuhan dan Pribadi yang keseluruhan unsur tersebut bersatu secara organik, harmonis, dan dinamis. Ketika ketiga unsur monodualis tersebut dijalankan dengan seimbang, maka akan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya.

Unsur-unsur manusia kedua-tunggalan (monodualis) pada hakikatnya mewujudkan suatu keutuhan (ketunggalan) sehingga bersifat mejemuk-tunggal (monopruralistik). Agar manusia Indonesia benar-benar menjadi manusia, harus mampu mengejawantah unsur-unsur hakikat manusia yang bersifat monopruralistik dalam perbuatan lahir dan bathin serta kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat menampilkan hakikat perwujudan manusia Indonesia secara utuh.

‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ mengakui hakikat manusia sebagai makhluk individu maupun sosial secara selaras, serasi, dan seimbang. Selain itu, Indonesia bukanlah negara yang bersifat materialis ataupun idealis utopis, karena Indonesia mengakui bahwa manusia merupakan monodualis jiwa-raga. Begitu pula mengakui manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan, sehingga terdapat perwujudan kesesuaian dengan nilai-nilai Tuhan. Kaitannya dengan negara ‘manusia yang adil dan beradab’ merupakan subjek, objek, dan tujuan negara, sifat dan keadaan negara harus koheren dengan hakikat kodrat manusia. Terlaksananya hakikat jiwa, raga, individu, sosial, makhluk Tuhan, makhluk berdiri sendiri. Semua itu dalam bentuk pelaksanaan hidup yang bermartabat dan setinggi-tingginya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *