Posted in Uncategorized

Membaca adalah kewajiban

Membaca adalah kewajiban Posted on November 16, 20172 Comments

Sudah sangat familiar ditelinga sejak kita masih duduk dibangku sekolah dasar dengan peribahasa “buku adalah jendela dunia”. Namun seiring berjalannya waktu dan dengan bertambahnya aktivitas, apalagi ketika sudah menjadi mahasiswa dengan berbagai kesibukan dan jadwal yang padat, membuat kebiasaan membaca yang sudah ditanamkan kepada kita sejak dini mulai luntur. Padahal sebagai mahasiswa, kebiasaan membaca akan sangat bermanfaat jika dilakukannya dengan rutin. Membaca adalah pondasi dasar keterampilan akademik. Membaca dapat membuat konsentrasi meningkat, memperluas wawasan, mendapatkan informasi, dan menumbuhkan inspirasi.

Perlu diketahui menurut riset yang dilakukan UNESCO data minat masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, yaitu hanya 0,001%, itu artinya dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca. Hasil penelitian serupa dilakukan oleh Central Connecticut State University dalam studi Most Littered Nation In The World pada Maret 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Data tersebut membuktikan betapa minimnya minat membaca orang Indonesia saat ini.

Sebagai mahasiswa kita tentu tak boleh berdiam diri dengan kondisi seperti ini. Apalagi mahasiswa yang berkecimpung dalam organisasi pergerakan, dengan melihat realita yang ada harus melakukan gerakan perubahan. Mahasiswa pergerakan harus menjadi pelopor perubahan untuk menumbuhkan budaya membaca. Jika hal itu tidak dilakukan maka jangan heran jika sepuluh sampai lima belas tahun yang akan datang sudah tidak kita jumpai lagi orang duduk berdiskusi berbicara dan membedah buku. Bagaimana mungkin orang akan berdiskusi kalau tidak membaca terlebih dahulu? Yang ada adalah berdiskusi ngalor-ngidul yang tidak berisi. Sudah menjadi hal yang lumrah saat ini kita temui perkumpulan dan diskusi yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa, tetapi karena diskusi hanya sekedar datang pada ahirnya menurut penulis itu bukanlah diskusi melainkan ngaji. Perlu dipahami bahwa diskusi itu merupakan komunikasi dua arah, kalau hanya satu arah dari narasumber itu artinya ngaji.

Bukan menjadi masalah buku apa yang kita baca, yang terpenting adalah membiasakan membaca secara rutin. Bacalah sesuai minat dan kemampuan masing-masing hingga nantinya akan menemukan bacaan yang sesuai dengan dirimu. Bung Hatta pernah berkata “aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”, dari kata-kata tersebut dapat penulis artikan bahwa dari buku pembaca dapat menemukan berbagai hal.

Untuk saat ini jika kita mau membaca bukanlah hal yang sangan sulit, karena buku yang ada disekitar kita sangatlah banyak. Perpustakaan kota maupun di dalam kampus menyediakan banyak jenis buku yang dapat kita nikmati. Banyak pula kini kafe maupun warung kopi yang dapat kita gunakan nongkrong sambil membaca buku, kalau di kota Malang sebut saja ada kafe pustaka UM, Oase Coffee, Djangkir 13 Coffee, dan lainnya yang menyediakan pojok baca. Selain dalam buku cetak, kini sangat mudah ditemui E-Book yang dapat kita baca dengan praktis di smartphone kita. Permasalahannya tinggal kita mau membaca atau tidak. Perlu diingat bahwa tidak ada orang besar tanpa membaca. Maka dari itu mari mulailah membudayakan membaca mulai dar diri sendiri, mengajak orang lain disekitar kita dan membuat gerakan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Bergerak dengan memulai pada diri sendiri niscaya orang lain akan percaya pada kita.

 

Penulis: Eko Yusuf Edi Wijaya.

2 thoughts on “Membaca adalah kewajiban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *