Posted in Uncategorized

Politik Perempuan di Kancah Nasional

Politik Perempuan di Kancah Nasional Posted on November 3, 2017Leave a comment

Meningkatkan jumlah perempuan di panggung politik merupakan isu yang seringkali diperdebatkan. Sejak tahun 2002, mayoritas para aktivis politik, tokoh-tokoh perempuan dalam partai politik, kalangan akademisi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (SDM) setuju akan perlunya peningkatan partisipasi politik perempuan di Indonesia (Nina Andriana, dkk. 2012). Sehingga tingkat keterlibatan perempuan dalam panggung politik semakin meningkat. Sudah menjadi hal wajar bila, kemunculan isu gender masih sering kita lihat, apa lagi menjelang pemilihan umum pimpinan daerah atau instansi.

Isu perempuan dan politik menjadi isu yang hangat dalam setiap lima tahun sekali menjelang pelaksanaan pemilu sebab partisipasi perempuan di ranah politik masih rendah dari periode ke periode, walaupun sudah menjadi pembahasan sejak tahun 2002, seperti yang disebutkan diatas. Padahal, konstitusi dasar negara Indonesia memberikan jaminan terhadap partisipasi setiap warga negara termasuk perempuan. Hal ini terkait dengan sistem budaya masyarakat Indonesia yang masih bersifat patriarkat (garis turunan bapak. KBBI). Perempuan masih dilengkapi atribut kultural yang seringkali menjadi pembatas gerak perempuan di sektor publik, termasuk dunia politik. Ketertinggalan perempuan di ranah politik, terutama jumlah perempuan yang rendah di lembaga legislatif, berdampak terhadap lahirnya kebijakan yang tidak sensitif gender sebab para pengambil kebijakan didominasi oleh laki-laki.

Upaya mendorong perempuan untuk terjun ke dunia politik pun sudah dilakukan oleh berbagai organisasi, mulai dari tingkat pelajar hingga pasca mereka mengemban di dunia pendidikan. Mental dan konsumsi pengetahuan di tata serta di latih di setiap organisasi tersebut. Perbedaan pendidikan di setiap organisasi itu pun menjadi keunikan di dunia politik nantinya. Akan tetapi degradasi pengkaderan di zaman modern ini, menuntut pengurus organisasi mampu menciptakan inovasi baru, maupun strategi baru, yang kemudian mampu menarik dan mendidik perempuan untuk mencerdaskannya.

Seiring berkembangnya waktu, dengan adanya tokoh perempuan berprestasi seperti, Ibu Kofifah, Ibu Risma, Ibu Susi, dan lain sebagainya, perempuan dipandang lebih bisa menciptakan perubahan dari pada laki-laki. Namun persaingan politik yang amat pelik, membuat perempuan tersingkir oleh kepentingan-kepentingan penguasa, demi mengamankan kedudukannya. Hal tersebut menjadi persoalan bagaimana mendukung perempuan untuk menciptakan perubahan yang layak bagi bangsa.

Oleh karena itu, bagaimana kita lebih perhatian kepada perempuan. Bukan pada topik penyetaraan gender, karena hal itu sudah terjawab dengan situasi sekarang. Tetapi pada topik dukungan ide, gagasan, serta tindakan. Pertama ide, perempuan juga punya ideologi mampu merekam materi layaknya seorang laki-laki. Kedua gagasan, ideologi melahirkan ide-ide baru untuk menciptakan perubahan maupun berinovasi. Ketiga tindakan, setelah gagasan perempuan telah tercurahkan, kemudian bagaimana menindaklanjuti gagasan tersebut, agar tidak terhenti dari konsep saja. Sebagaimana contoh kasus Ibu Kofifah merancang gagasannya sebagai menteri sosial. Kita semua wajib mendukung gagasan tersebut, dengan tujuan mengangkat tokoh perempuan khususnya di kancah politik nasional.

Segala hal yang telah ditulis tidak bisa berhasil secara instan, perlu adanya dorongan, pengabdian, perjuangan dari segala pihak baik internal organisasi maupun eksternal organisasi. Keterbatasan fisik perempuan akan terhapuskan ketika hal itu bisa dijalankan dengan baik, meskipun dilakukan diluar struktural. Perlu juga menghilangkan egoisme pribadi, agar tidak menumbuhkan sifat iri, merasa dimanfaatkan, atau dibedakan, karena tujuannya sudah jelas yaitu untuk mengangkat tokoh perempuan di kancah nasional.

Bukanlah hambatan dari orang lain yang menghentikan langkah kita, tetapi yang menghentikan langkah kita adalah kita sendiri. Apapun dan siapapun hambatannya, ketika tekat kuat masih digenggam pastilah kaki tidak akan berhenti melangkah meski tubuh ada yang menahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *