Posted in Opini

Titip Doa Untuk Anak Terbuka

Titip Doa Untuk Anak Terbuka Posted on January 17, 2018Leave a comment

Jangan sekali-kali berani memukul anak jika kita tiap malam belum pernah diam-diam mendoakan kebaikan untuknya.

Setiap orang dewasa selalu memiliki kesadaran bahwa aset yang paling berharga dari sebuah peradaban adalah anak. Anak yang nantinya berevolusi menjadi generasi muda emas inilah yang akan digadang-gadangkan sebagai tiang kebesaran negara. Oleh sebab itu, di seluruh penjuru Indonesia sistem pendidikan, perlindungan anak, hingga permasalahan lainnya mulai direnovasi besar-besaran. Namun apakah benar setiap hak anak akan dipenuhi oleh negara? Hak yang seperti apakah? Fisik atau psikis?
Kota Malang adalah salah satu kota pendidikan yang menjadi percontohan kota-kota lainnya di Indonesia. Pada Tahun 2017, Kota Malang berhasil mendapatkan gelar “Kota Layak Anak” (KLA) yang diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kabupaten atau Kota Layak Anak adalah sistem pembangunan yang mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat, serta dunia yang berusaha secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan dalam kebijakan, program, serta kegiatan untuk pemenuhan hak-hak anak.

Jika dilihat dari mata biasa, memang Malang pantas mendapat gelar KLA. Menjamurnya lembaga pendidikan di Kota Malang yang dapat menjamin mutu anak-anak menjadi salah satu bukti nyata. Mulai dari adanya The Learning University sebagai universitas pendidikan tertua di Indonesia yang mencetak calon-calon guru yang luar biasa. Hingga salah satu universitas ternama di Indonesia yang tak surut diminati oleh calon-calon mahasiswa. Lebih dari 80 perguruan tinggi dan ratusan sekolah mulai dari yang berstatus negeri dan swasta menjadi wisata pendidikan yang menawan. Adanya PERDA kota layak anak, Lembaga perlindungan anak, RTH ramah anak menjadi bagian penting dari nilai jual dari gelar KLA Malang. Selain itu juga melimpahnya komunitas-komunitas sosial hingga yang paling khusus menangani permasalahan anak cukup membuktikan bahwa Kota Malang memang pantas menyandang gelar KLA. Namun, tidak banyak orang memandang melalui mata hati kemudian mempertanyakan, apakah benar Kota Malang menjadi Kota Layak Anak? atau bahkan seluruh kota di Indonesia masih belum pantas menyandang gelar kota layak anak?

Mari kita kenali anak bukan hanya dari sistem, akan tetapi benar-benar dari apa yang ada dan terbangun dalam diri anak. Bagaimana pendidikan memperlakukan anak tersebut sebagai manusia. Seperti apa lembaga-lembaga perlindungan anak mengembalikan jiwa mereka yang terluka. Sebagian sekolah masih tidak sadar diri, menginginkan calon-calon peserta didiknya adalah yang sudah cerdas dan berakhlak. Sehingga untuk mendaftar ke sekolah, nilai Ujian Nasional masih menjadi pertimbangan utama. Jika memang sekolah-sekolah yang menganggap dirinya besar hanya menerima peserta didik yang pintar, lalu bagaimana fungsi utama sekolah? Mereka menganggap bahwa yang bodoh dan nakal adalah penyakit yang harus segera ditumpas habis. Sedangkan seharusnya anak-anak itu mengharapkan masuk dengan ketidaktahuan dan keluar menjadi tahu. Dari raut wajah mereka menggantungkan kepasrahan untuk dididik menjadi lebih baik.

Di Kota Malang juga membuka sekolah terbuka. Ada kurang lebih lima SMP terbuka di Kota Malang. Tujuannya memang untuk memfasilitasi anak-anak yang terlambat sekolah atau kesulitan dalam ekonomi. Namun dengan adanya sekolah terbuka menunjukkan kesenjangan yang cukup menganga. Selain anak terbuka yang menjadi salah satu korban stigma orang dewasa bahwa anak yang bodoh dan nakal harus dimusnahkan, ada pula anak jalanan yang diam-diam menangis setiap malam. Mereka sebenarnya adalah korban yang kemudian dianggap sebagai tersangka. Mereka sebenarnya adalah tanggungan masyarakat yang akhirnya dianggap sebagai penyakit masyarakat.

Sebagai orang dewasa, siapapun anak itu, kita bertanggungjawab untuk melakukan parenting. Kita wajib asih dan asuh kepada anak baik ia bagian dari keluarga maupun bukan. Walaupun kadang kala ketika kita melihat anak yang nakal atau bodoh kita langsung menghardik mereka dengan kata umpatan. Tidak dipungkiri ketika melihat mereka berkeliaran di jalan dan melakukan kriminalitas tentu kita lebih berpikiran underetimate terhadap mereka. Bahkan ketika kita benar-benar merasa kesal kita berani untuk memukul mereka. Pendidikan yang keras tidak selalu dapat merubah perilaku anak. Setiap anak memiliki proses pertumbuhan yang berbeda. Itu juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama diri kita sendiri. Oleh sebab itu jangan sekali-kali berani memukul anak, jika kita tiap malam belum pernah diam-diam mendoakan kebaikan untuknya.

Ada pula komunitas sosial yang meneriakkan pada khalayak bahwa dirinya berjuang atas panggilan hati nurani namun malah menyakiti. Anak-anak itu diperjualbelikan dengan Laporan Pertanggungjawaban kepada Dinas Sosial. Alih-alih mendorong pendidikan karakter anak padahal merusak. Mereka hanya memenuhi kebutuhan berupa sandang, pangan, papan. Mereka menganggap bahwa pencapaian tertinggi adalah kebutuhan fisik, padahal karakter anak lebih dari itu. Sistem pendidikan menganggap bahwa pencapaian tertinggi adalah nominal bukan moral.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *