Untuk Tabungan Akherat, Ungkapan Penggali Kubur di Sampang Saat Kematian Tinggi

Pelopor.Net - 24 Juli 2021 - 05:21 WIB
Untuk Tabungan Akherat, Ungkapan Penggali Kubur di Sampang Saat Kematian Tinggi
Azis dan Miskadin Usai Menggali Kubur Warga Meninggal di Jalan Mutiara Kelurahan Banyuanyar Sampang ()
|
Editor

SAMPANG, PELOPOR.NET – Jumlah kematian yang cukup tinggi di Kelurahan Banyuanyar Sampang Madura Jawa Timur tidak menyurutkan semangat bagi petugas penggali kubur setempat

Saat ditemui di pemakaman umum kampung Ruberuh jalan Mutiara sabtu 24/7 Azis dan Miskadin tetap bersemangat mengkoordinir penggalian kubur warga setempat yang meninggal dunia
“Dalam waktu 1 bulan sudah 53 kali melayani prosesi pemakaman bagi warga Kelurahan Banyuanyar,” ujar Azis yang diamini oleh Miskadin di lokasi usai menggali kubur untuk warga di jalan Mutiara yang meninggal dunia

Azis 62 warga jalan Mutiara yang menjalani tugas sosial mulai tahun 1990, mengaku dipercaya oleh Pengurus Rukun Kematian Banyuanyar untuk Lingkungan Taman Arum

Diungkapkan oleh penjual pentol di area selatan Monumen ini, selama menjadi petugas penggali kubur tidak pernah memikirkan target bayaran baik dari Pengurus Rukun Kematian Banyuanyar maupun Keluarga yang meninggal dunia

Pihak keluarga hanya menyiapkan nasi bungkus, kopi, air, terkadang rokok, dan uang sekedarnya (uang slabet)
“Untuk petugas inti penggali kubur 7 – 8 orang, tapi ada warga yang ikut membantunya, itung itung untuk tabungan akherat pak,” ujar Azis

Disampaikan juga oleh Miskadin selama masa Pandemi selalu siap menjalankan tugas, baik siang maupun malam

Bahkan saat ada warga yang meninggal karena Covid-19, Ia bersama petugas penggali kubur yang lain tetap memfasilitasi dilokasi sesuai permintaan Keluarga

Sementara untuk pemulasaran atau penguburannya dilakukan oleh Tim yang ditunjuk
“Capek sih, tapi tidak terasa karena Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk warga di Kelurahan Banyuanyar,” tutur Miskadin yang kesehariannya juga berjualan pentol di Monumen

Ia berseloroh selain untuk tabungan akherat, sebagai masyarakat kecil tidak ada yang bisa disumbangkan

Hanya dengan keikhlasan dan profesi sebagai penggali kubur itulah yang dapat diberikan untuk kemaslahatan Ummat

Ungkapan yang lebih menyentuh hati disampaikan Muhammad Ali 52 warga jalan Diponogoro Kelurahan Banyuanyar

Ia dipercaya juga oleh Pengurus Rukun Kematian Banyuanyar sebagai koordinator penggali kubur kampung Jhuklanteng (jalan Diponogoro – Permata dan sekitarnya)

Penarik becak ini mengaku menjalani profesinya mulai tahun 1976, peralatan serta kelengkapan lain dibelinya sendiri dari sisa kebutuhan keluarga sebagai penarik becak

Sama dengan yang disampaikan oleh Azis dan Miskadin, Muhammad Ali tidak pernah menarik target apapun dari Keluarga yang meninggal dunia

Bahkan uang sukarela (slabet) yang diterimanya selama ini disimpan, dan dikeluarkan lagi untuk kebutuhan konsumsi petugas penggali kubur lainnya disaat melayani Keluarga tidak mampu
“Tak terasa capek walaupun jumlah kematian cukup tinggi belakangan ini, karena untuk tabungan akherat dan kita pasti akan mengalaminya,” kata Muhammad Ali sabtu 24/7

Ia mengaku pernah menolak tawaran Lurah Banyuanyar untuk mendapat insentif

Karena menurutnya apa yang dilakukan bersama petugas penggali kubur yang lain itu tidak bisa ditukar dengan uang

Ia hanya berharap Rukun Kematian Banyuanyar melengkapi peralatan pengeras suara untuk kebutuhan di pemakaman

Sebelum mengakhiri ungkapannya, Muhammad Ali bergumam walaupun sebagai penarik becak beropsesi dapat memberikan manfaat bagi Lingkungan maupun masyarakat. (det/hsn)

 306 Pembaca,  1 Hari ini

Tinggalkan Komentar

Close Ads X