Polwan Lahir di Kota Bukittinggi Dipelopori Enam Remaja Puteri

  • Bagikan
( Catatan: Yousri Nur Raja Agam )

Hari ini 1 September 1948:

POLISI Wanita (Polwan) Indonesia, lahir 73 tahun silam, 1 September 1948, di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Waktu itu, Kota Bukittinggi berstatus sebagai Ibukota Provinsi Sumatera.

Berdasarkan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), hari lahir Polwan ini, berawal dari enam srikandi dari Kota Bukittinggi. Ke enam perempuan itu adalah tamatan SMP Negeri 1  Bukittinggi, yang dulu di zaman Belanda bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Para pelopor Polwan ini, semuanya gadis-gadis berdarah Minang. Mereka adalah: Mariana, Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar, Djasmainar dan Rosnalia. Yang cukup membanggakan, ke enam  wanita ini menyandang karir sebagai Polisi Republik Indonesia sampai pensiun. Bahkan mereka berhasil menyandang pangkat sampai perwira menengah, yakni Komisaris Besar (Kombes) yang waktu itu disebut Kolonel Polisi.

Untuk itulah  tempat kelahiran Polwan di Kota Bukittinggi ini, ditandai dengan berdirinya sebuah bangunan “Monumen Polisi Wanita” yang terletak di Jalan M.Sjafei, Bukittinggi. Juga berdekatan dengan Kantor Pos, stasiun Kereta Api,  serta komplek SMP Negeri 1 Bukittinggi, tempat ke enam cikal-bakal Polwan ini bersekolah sebelumnya.

Darurat Perang 

Tahun 1948 itu, keadaan negara kita dalam keadaan darurat perang,  setelah kemerdekaan. Kendati sudah ada kesepakatan melalui perundingan dengan pihak Belanda yang membonceng tentara Sekutu, ternyata dilanggar. Waktu itu, ibukota negara Republik Indonesia, berada dalam pengungsian, di Jogjakarta. Kota Jakarta, sudah dikuasai kolonial Belanda. Serangan bersenjata Belanda tidak hanya di Jakarta dan ke Jogjakarta, tetapi juga ke Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kota Bukittinggi, kala itu menjadi ibukota Provinsi Sumatera, juga menjadi sasaran pihak Belanda. Untuk menghindari pertumbuhan darah, warga terpaksa mengungsi ke daerah aman di luar kota.
Nah, saat pengungsian itu, aparat pemerintahan  meningkatkan kewaspadaan terhadap gelombang pengungsi itu. Khawatir disusupi mata-mata musuh, maka semua pengungsi diperiksa barang bawaan dan badannya.

Waktu itu, banyak pengungsi perempuan yang tidak bersedia diperiksa petugas laki-laki, terutama secara fisik. Hal ini tentu menyulitkan, apalagi ada kecurigaan, pihak Belanda menggunakan wanita pribumi sebagai mata-mata.

Agar pemeriksaan terhadap pengungsi bisa berjalan lancar, maka dimintalah bantuan relawan wanita. Namun, karena statusnya bukan polisi, tentu pekerjaan mereka terbatas hanya sebagai “pembantu polisi”. Umumnya yang membantu pemeriksaan adalah isteri Polisi dan pegawai kantor Polisi.

Untuk mengatasi masalah itu pemerintah daerah di Bukittinggi minta bantuan dan mengusulkan agar perempuan diberi kesempatan menjadi polisi. Dari usulan itu Pemerintah RI di Jogjakarta, memberikan mandat kepada Sekolah Polisi Negara (SPN) di Bukittinggi untuk membuka pendidikan kepolisian bagi perempuan. Dari 44 yang mendaftar, untuk tahap pertama, terpilih enam orang gadis remaja itu. Mereka ini kemudian dikenal sebagai “pelopor” Polwan Indonesia.

Sekarang, setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Polwan, kisah ini diungkap kembali. Tahun ini, Polwan berusia 73 tahun. Dari 450 ribu lebih anggota Polri, jumlah anggota Polwan sekitar 33 ribu, berarti hampir 10 persen. Di negara maju, jumlah anggota Polwannya, ada yang mencapai 40 persen.

Saat ini, kita juga melihat semakin banyak polisi perempuan yang menempati posisi-posisi strategis di kepolisian. Nah, kalau kita urut kembali jejak langkah Polwan, sejak lahir hingga sekarang, tentu tidak sedikit peran yang digoreskan oleh kaum ibu yang menjadi Polwan ini.

Jika kita ikut jejak langkah enam perintis Polwan yang mulai mengikuti pendidikan di SPN (Sekolah Polisi Negara) di Bukittinggi pada 1 September 1948 itu, perlu kita telusuri, di mana mereka sekarang? Kalau melihat, usia mereka tahun 1948, masih remaja sekitar 16 tahun-an, tentu sekarang sudah berusia lanjut dan berpulang ke rahmatullah.

Dari catatan kepolisian, ke enam Polwan perintis ini,  juga dinyatakan sebagai anggota Angkatan Bersenjata RI (ABRI) perempuan pertama di Indonesia. Kita tahu, sebelum reformasi, Polri berada di bawah Komando ABRI. Polri dan TNI (Tentara Nasional Indonesia) berada di bawah Menteri Pertahanan dan Keamanan (Hankam). Jadi, Polwan yang pertama ini, juga mendahului dari Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat), Kowal (Korp Wanita Angkatan Laut) dan Kowara (Korps Wanita Angkatan Udara).

Ketika diperoleh informasi,  bahwa Pemerintahan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang ibukotanya Bukittinggi, akan diserang oleh Belanda. Untuk menghindari korban, maka Kota Bukittinggi
harus dikosongkan awal 1949. Sebab, pasukan Belanda semakin mendekat.

Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) pimpinan Inspektur Polisi Amir Machmud ditugaskan mendirikan basis pertahanan untuk melindungi proses pengosongan itu. Dalam pasukan ini, terdapat tiga orang polisi wanita, yaitu Rosmalina, Jasmaniar, dan Nelly Pauna.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia secara penuh, dengan peristiwa sejarah yang disebut “Penyerahan Kedaulatan”, ke enam Polwan dari Bukittinggi ini melanjutkan pendidikan ke SPN Sukabumi, Jawa Barat. Mereka lulus pada Mei 1951 sebagai inspektur polisi.
Enam Srikandi inilah yang menjadi pelopor lahirnya kesatuan Polwan di Indonesia. Mereka mengemban tugas yang tidak kalah penting dari polisi pada umumnya. Walaupun, jumlahnya masih jauh di bawah populasi polisi pria atau laki-laki.

Presiden Sukarno, dalam pidatonya yang dikutip dari buku “Wanita Indonesia Selalu Ikut Bergerak dalam Barisan Revolusioner (1964)”, memuji polisi-polisi wanita dari Sukabumi itu. Bung Karno menyebut ke enam Gadis Minang yang menjadi pelopor polisi wanita itu bagaikan bunga. “Bunga melati pagar bangsa”, ujar Bung Karno.

Para Polwan perintis ini, mengakhiri karirnya di Polri, dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi (Kombespol) yang waktu mereka pensiun di bawah naungan ABRI, sebutan pangkatnya adalah “kolonel polisi”.
Nelly Pauna dikenal sebagai Kolonel Polisi Nelly Pauna Situmorang,
Mariana (Kolonel Polisi Mariana Saanin Mufti),
Djasmaniar (Kolonel Polisi Djasmaniar Husein),
Rosmalina (Kolonel Polisi Rosmalina Pramono), Rosnalia (Kolonel Polisi Rosnalia Taher),
dan Dahniar (Letnan Kolonel Dahniar Sukotjo).

Era Orde Baru

Setelah era Orde Lama berakhir dan digantikan rezim Orde Baru dengan Soeharto selaku presiden, proses pendidikan untuk calon polisi wanita masih berlanjut, tetapi yang berminat tidak terlalu banyak. Selain itu, belum ada institusi pendidikan khusus yang menaunginya. Kaderisasi Polwan juga tersendat setelah Polri melebur dengan TNI menjadi ABRI. Apalagi penerimaan taruni (taruna perempuan) di Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata RI) dihapuskan. Akibatnya, Polri tidak memiliki lulusan Polwan dari Akademi Kepolisian.

Untunglah, tahun 1975, Sekolah Anggota Kepolisian RI di Ciputat, Jakarta, yang bernaung di bawah Polda Metro Jaya, membuka kelas khusus untuk mendidik bintara polwan. Tahun 1982, kelas ini diperluas menjadi Pusat Pendidikan Polisi Wanita (Pusdikpolwan). Berikutnya, pada 30 Oktober 1984, status Pusdikpolwan diganti menjadi Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) yang dinaungi Direktorat Pendidikan Polri.

Berdirinya Sepolwan, secara bertahap menarik minat perempuan untuk menjadi polisi, kendati secara presentase masih sangat kecil di sepanjang dekade 1980-an. Hingga era 1990-an, ada peningkatan jumlah personil Polwan di tubuh Polri. Dari tahun ke tahun minat menjadi Polwan di kalangan gadis remaja semakin menuingkat. Apalagi, sejak mereka diberi peran tampil sebagai staf Binmas (Pembinaan Masyarakat), Humas (Hubungan Masyarakat), Polantas (Polisi Lalu Lintas), Badan Narkotika Nasional (BNN) dari pusat sampai ke daerah, serta satuan-satuan yang mengurusi Wanita dan Anak, serta bidang lainnya. Sekarang posisi Polwan sudah sejajar dengan Polisi laki-laki.

Sekarang, tercatat sudah ada 13 orang Polwan yang menjadi Pati (Perwira Tinggi). Dua orang mencapat pangkat Irjenpol (inspektur Jenderal Polisi) dan 11 orang Brigjenpol (Brigadir Jenderal Polisi)
Ada tiga orang yang masih aktif, dan lainnya sudah pensiun atau purnawirawan.
Mereka itu adalah:
Irjenpol (Purn) Basaria Panjaitan, SH,MH,
Irjenpol (Purn) Dra Sri Handayani,
Brigjenpol (Purn) Jeanne Mandagi, SH,
Brigjenpol (Purn) Dra.Roekmini Koesoema Astoeti,
Brigjenpol (Purn) Paula Maria Renyaan Bataona,
Brigjenpol (Purn) Dra.Sri Kusmaryati,
Brigjenpol (Purn) Dra Noldy Rata,
Brigjenpol (Purn) Hj.Rumiah Kartoredjo,SPd.
Brigjenpol (Purn) Soepartiwi, MPd.,
Brigjenpol (Purn) Dra.Hj. NurAfiah, MH., 
Brigjenpol Ida Oetari.
Brigjenpol Apriastini Bakti Bugiansri,
Brigjenpol Djuansih.

Demikian Dirgahayu Polwan dan Selamat Hari Jadi ke-73 Polwan.(*)

 558 Pembaca,  12 Hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *