PN Surabaya Kembali Gelar Sidang Perkara Fasilitas Pinjaman di Bank Bukopin dengan Terdakwa Aris Kurniawan

Pelopor.Net - 25 Maret 2022 - 11:11 WIB
PN Surabaya Kembali Gelar Sidang Perkara Fasilitas Pinjaman di Bank Bukopin dengan Terdakwa Aris Kurniawan
 (Pelopor.Net)
|
Editor

■ Pembayaran 20% Dibarter Jual Beli Gula Rafinasi

PELOPOR.net – Surabaya – Kembali Perkara fasilitas pinjaman di Bank Bukopin yang melibatkan Aris Kurniawan sebagai Direktur PT. Agro Mulya Jaya (AMJ) dalam sangkaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Darwis, yakni, adanya dugaan isi akta pengajuan kredit yang tidak benar sehingga Bukopin tidak bisa melakukan eksekusi atas Delivery Order (DO) sebagai agunan, digelar PN Surabaya.

Sidang lanjutan perkara ini disidangkan diruang cakra Pengadilan Negeri (PN) surabaya, dengan agenda pemeriksaan terdakwa, menghadirkan terdakwa Aris Kurniawan, Kamis (24/3/2022).

Terdakwa Aris Kurniawan menyampaikan keterangannya saat dilakukan pemeriksaan, bahwa PT AMJ pernah ajukan permohonan kredit, tidak tau.

“PT AMJ ajukan kredit tidak tau karena sebelumnya saya menjadi Direktur di PT tersebut, kredit itu sudah ada,” kata terdakwa.

Pada permohonan kredit tahun 2012 ada 3 diantaranya senilai Rp 375 milliar dan Rp 250 milliarnya dua kali.

“Yang memohon saya diwaktu selaku menjabat Direktur hanya Rp 350 milliar yang disetujui dengan anggunan DO gula pasir dari PTPN dan gula rafinasi non PTPN sebanya 6000 ton.” kata Aris

Masih menurut keterangan terdakwa Aris, fasilitas kredit Rp 375 milliar dengan tenor 9 bulan sudah lunas.

Dana pinjaman Rp 375 milliar dari Bank Bukopin dengan anjuran DO gula pasir dan gula rafinasi dalam klarifikasi barang sudah ada.

“Jaminan DO belum ada tapi sudah dicairkan karena Bank bukopin memberi fasilitas kredit dan dana yang sudah disiapkan Rp 375 milliar,” kata Aris.

Aris menambahkan, selama ini, fasilitas kredit tentu ada bunga dan jaminan dalam hal ini, fasilitas disetujui karena ada jaminan dan dana tersebut, untuk pembelian ke petani dan swasta melalui CV Sugar Labinta (SL) dengan DO dijaminkan di Bank Bukopin sudah lunas, kemudian DO dijaminkan lagi dengan pinjaman kredit Rp 250 milliar juga sudah lunas, lalu pinjam lagi Rp 250 milliar lunas juga.

Sedangkan, pada 2011, PT.Rukun Mulya (RM) kerjasama dengan CV.SL dan 2012 ada kerjasama lagi. Uang pencairan digunakan bayar ke petani.

Terkait, macet atau gagal bayar pada Oktober 2015, dikarenakan tidak bisa menjual harga gulanya lantaran, pasar market yang terjadi harga gula lebih rendah.

Disinggung terkait, pembukuan kerjasama PT. RM kurang bayar ke CV. SL sebesar 22 Milyard, seperti keterangan yang disampaikan, Susi Susiati Ateng.

Dalam tanggapan, Aris mengatakan,
kerjasama PT.RM dan CV.SL sudah clear karena PT.RM beri DO dan CV.SL memberi dana talangan 50 Ribu ton.

Hal lainnya, Aris memaparkan, Pembayaran dana talangan CV.SL ke petani tahun 2011 ditransfer 100% dan Clear.

Selanjutnya, tahun 2012, dana talangan 100 persen dari CV. SL yang dibayarkan hanya 80 persen terdapat kurang bayar 20 persen selama musim giling tahun 2012 sebesar 282 Milyard yang dipinjam dari  PT. AMJ karena CV.SL tidak punya uang tunai maka dibayar menggunakan gula rafinasi dengan DO sebesar 37 Ribu Ton senilai 268 Milyard.

Sehingga PT.AMJ menambah pembayaran kembali ke CV SL sebesar 368 Milyard.
” DO 37 Ribu Ton sudah lunas dibayar PT. AMJ ,” ungkap Aris.

Hal diatas, semakin diperjelas oleh, Penasehat Hukum terdakwa, dengan menunjukkan Putusan Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Surabaya, Nomor 5/Pdt.Sus-PKPU/2017/PN. Niaga. PN. Sby, yang pada saat rapat kreditur CV.SL  menolak menjadi kreditor. Sehingga tidak ada lagi hutang PT.AMJ kepada CV.SL.

Hal lainnya, adanya Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.781/Pdt.G/2016/PN.Jks.Slt.
Ditegaskan, apabila kontrak penjualan atas 37 Ribu ton gula rafinasi dari CV SL dengan PT.AMJ sah telah mengikat dan berharga. (Nur)

 471 Pembaca,  6 Hari ini

Tinggalkan Komentar

Close Ads X