Melatih Sikap Toleran Dan Dialog Antar Umat Beragama

Pelopor.Net - 17 April 2022 - 19:37 WIB
Melatih Sikap Toleran Dan Dialog Antar Umat Beragama
 (Pelopor.Net)
|
Editor

PELOPOR.net – Malaka – Hari Raya Paskah atau peringatan Hari Kebangkitan Yesus Kristus dirayakan oleh seluruh umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan di seluruh dunia pada hari ini Minggu, 17/04/2022.

Bacaan-bacaan Suci pada hari ini mengisahkan tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Kisah para rasul mengisahkan tentang kesaksian para rasul akan kebangkitan Kristus, bahwasanya Kristus telah disalibkan namun kini ia dibangkitkan Allah dan dialah yang akan menjadi hakim atas orang hidup dan mati.

Selanjutnya St. Paulus kepada Jemaat di Kolose mengajarkan kepada kita untuk menyadari bahwa jika Kristus adalah hidup kita maka kita akan berada bersama Dia di dalam kemuliaan-Nya.

Akhirnya Yohanes melukiskan kepada kita tentang makam yang kosong sebagai pertanda Kristus telah bangkit.

Romo Toyudho Prastowo dalam kotbahnya Yudo mengatakan, kita perlu terdorong sebagai manusia Paskah sama seperti para murid Yesus. Dikisahkan bahwa setelah Yesus wafat para murid dipenuhi dengan berbagai macam keheningan karena yang selama ini menjadi pegangan dan yang selama ini menjadi Guru telah tiada.

Hal ini tentu membuat mereka ketakutan karena ada ancaman dari luar kelompok mereka dengan kata lain para murid mengalami sisi gelap dan terbelenggu oleh situasi.

Meskipun begitu para murid masih memiliki secuil harapan untuk terus bertambah keimanan, terutama bahwa Yesus tidak meninggalkan mereka, hal ini ditunjukkan dengan keberanian Maria Magdalena yang pagi-pagi benar pergi ke kubur untuk memberi rempah-rempah.

Kita bisa membayangkan bagaimana Maria Magdalena penuh kesedihan, ketakutan tapi dia tetap melangkah. Inilah proses untuk menjadi manusia Paskah.

Dalam proses untuk menjadi manusia Paskah perlu ada gerak langkah bukan hanya diam, bukan hanya menunggu tetapi mau mencari dan melangkah walaupun situasinya sulit.

Namun kita perlu merefleksikan diri dalam pergerakan kita agar kita tidak jatuh pada aktivisme belaka yang kehilangan makna, sebab aksi tanpa refleksi akan kehilangan rohnya dan mudah diombang-ambingkan.

Refleksi atas kebangkitan inilah yang menjadikan para murid tidak takut, mereka mendapat energi baru, energi untuk berbuat baik dan dalam gerak berbuat baik itu kita dapat mewujudkan diri menjadi manusia Paskah,” ungkapnya.

Yudo menambahkan, konteks yang tepat untuk Indonesia sekarang dalam rangka berbuat baik, ada beberapa hal yang bisa ditawarkan, yakni melatih sikap toleran dan sikap dialog antar umat beragama, serta memiliki sikap anti kekerasan, harus saling menghormati martabat manusia, dan memiliki sikap terbuka pada kebudayaan setempat.

Sikap-sikap itulah yang akan membuat kita bisa mewujudkan komitmen cinta akan tanah air yang beragam ini,” pungkasnya.

(Ridho)

 405 Pembaca,  3 Hari ini

Tinggalkan Komentar

Close Ads X