Buntut Penembakan, Warga Gadu Timur dan Aktivis Bergerak Minta Pelaku Diadili

Pelopor.Net - 18 Maret 2022 - 11:40 WIB
Buntut Penembakan, Warga Gadu Timur dan Aktivis Bergerak Minta Pelaku Diadili
 (Pelopor.Net)
|
Editor

PELOPOR.net – Sumenep – Insiden penembakan yang menyebabkan Herman warga Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep, Jawa Timur meninggal dunia, Minggu, (13/3/2022) berujung panjang.

Ratusan warga dan Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) melakukan aksi demonstrasi di depan Mapolres Sumenep, Kamis, (17/3/2022). Mereka meminta keadilan atas tindakan penembakan yang dianggap tidak wajar tersebut.

Dalam aksinya mereka membawa poster yang intinya meminta keadilan atas insiden yang menewaskan Herman juga membawa pengeras suara. Dihadapan Kapolres Sumenep AKBP Rahman Riadi, mereka menyampaikan enam tuntutan. Berikut enam tuntutan yang disampaikan :

  1. Kapolres Sumenep harus mengklarifikasi dan meminta maaf secara terbuka kepada keluarga dan masyarakat Indonesia untuk memulihkan nama baik Herman dan Keluarga.
  2. Pecat dan pidanakan lima oknum kepolisian yang membunuh almarhum Herman sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  3. Polres wajib bertanggung jawab atas tindakan arogansi dari anggotanya yang tidak berperikemanusiaan dan berperikeadilan.
  4. Mendesak Polres Sumenep dan Polda Jatim melakukan transparansi dari proses dan hasil pemeriksaan, penyelidikan dan penyidikan dari lima anggota yang membunuh almarhum Herman dalam bentuk berita acara yang disiarkan kepada publik.
  5. Komnas HAM tidak boleh menutup mata akan insiden penembakan yang terjadi pada tanggal 13 Maret 2022 lalu.
  6. Instansi Polri harus bertindak tegas pada anggotanya yang brutal dan mengabaikan asas kemanusiaan.

Ketua DPC GMNI Sumenep, Robi Nurrahman menyampaikan aksi penembakan tersebut dinilai tidak berprikemanusiaan. Karena Herman tidak pernah melakukan aksi kejahatan.

“Herman bukan begal, bukan peminum dan bukan pencuri sebagaimana yang disampaikan oleh Humas Polres kepada media,” kata Robi Nurrahman, sebagaimana dilansir dari laman Sinergimadura.com.

Robi meminta dengan tegas agar Kapolres Sumenep sebagai pucuk pimpinan untuk menindak tegas anggota yang terlibat dalam aksi penembakan tersebut.

“Kami meminta kepada Kapolres Sumenep untuk menindak anggotanya yang brutal dan tidak berperikemanusiaan,” lantang dia.

Wakabid Hukum dan HAM DPW KNPI Jawa Timur Nur Faizal menjelaskan, tindakan aparat kepolisian dalam insiden penembakan kepada Herman dinilai bertentangan dengan SOP dan Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Saya sepakat itu tindakan terukur. Namun ketika jatuh tersungkur dan lumpuh itu masih diberondong lima kali tembakan lagi,” katanya.

Meski telah klarifikasi soal tindakan itu, namun kenyataannya penjelasan pihak kepolisian terbantahkan. Hal itu dibuktikan dengan munculnya tembakan di tubuh bagian atas korban.

“Luka tembaknya itu pas ada di bagian dada dan itu tembus. Ada 6 peluru yang bersarang,” beber mantan aktivis GMNI Pamekasan ini.

Sementara itu, Kapolres Sumenep, AKBP Rahman Wijaya mengatakan, insiden penembakan oleh anggotanya saat ini sudah ditangani Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Timur

“Kami juga menunggu hasil investigasi dari Propam Polda Jatim. Mari kita tunggu bersama-sama hasilnya,” katanya, saat ditanya sejumlah media.

Ditanya soal upaya pemberian sejumlah uang kepada pihak keluarga Herman, pihaknya mengaku masih akan mendalami kabar itu.
“Nanti akan kami kroscek dulu ke rekan-rekan di lapangan,” singkatnya.

(Cha)

 

 375 Pembaca,  3 Hari ini

Tinggalkan Komentar

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Close Ads X