Gugatan Atas Hak Suami Terhadap Pernikahan Isteri Dengan Orang Lain, Tanpa Adanya Surat Perceraian

  • Bagikan

Buntok, Barito Selatan, Pelopor.Net –
Kasus Yang terjadi didesa Sarimbuah Kecamatan Gunung Bintang Awai pada tanggal 30 mei 2021, Saat kedatangan pihak suami sebut saja Bpk Dainuber atau akrab dipanggil dengan Amah Reli, kedatangan tersebut langsung menuju kediaman kepala desa sarimbuah dimana dikarenakan Dainuber mendapatkan informasi dari beberapa warga masyarakat setempat, bahwa isterinya sudah dinikahkan didesa kayumban oleh penghulu adat desa kayumban.

Saat kedatangan pihak Dainuber ke kediaman kepala desa sarimbuah, disambut baik oleh kepala desa sarimbuah Ibu Etiani.
Saat itu Dainuber mengatakan kepada kepala desanya katanya “Mengingat saya selaku warga desa sarimbuah yang pergi dari rumah untuk mencari pekerjaan saya mendengar informasi yang kurang mengenakan dikarenakan isteri saya sudah dinikahkan dengan orang lain didesa kayumban oleh penghulu adat disana, tutur Dainuber

Karena mendengar hal tersebut Etiani selaku kepala desa sarimbuah kaget bukan main dan secara langsung mengumpulkan beberapa DAD dan staf Desa sekaligus memanggil isteri dari Dainuber sebut saja Ibu Dana atau akrab dipanggil dengan Ineh Reli bersama dengan cowok yang orang tersebut adalah suami baru dari ineh Reli tersebut.

Saat pertemuan tersebut Dainuber atau amah reli suami dari Dana atau ineh Reli tersebut mengatakan didepan beberapa warga yang hadir saat itu “Maksud kedatangan saya bersama dengan beberapa ahli waris saya saat ini mengajukan tuntutan atas dasar pengambilan Hak saya yang diambil oleh orang lain yang dengan kata lain (Isteri saya dirampas oleh orang lain), kupas Dainuber

Adapun jawaban dari pihak isteri atas perkataan tersebut adalah,
“Apa yang anda tuntut, bukankah saya sudah membuat surat pernyataan cerai dan ini surat yang saya buat” jawab isteri sembari mengeluarkan surat dan uang yang berjumlah Rp. 100.000;

Atas dasar surat pernyataan tersebut yang dikeluarkan oleh pihak isteri, semua yang hadir saat itu kaget oleh karena hanya terdapat tanda tangan sepihak saja, tanpa adanya tanda tangan dari pihak suami.

Karena surat pernyataan tersebut dianggap tidak resmi, maka pihak suami menyebutkan tuntutan yang harus dibayar oleh isteri dan suami barunya dengan jumlah 70 juta rupiah.
Namun salah satu warga masyarakat yang juga hadir saat itu ikut berbicara sebut saja Bpk. Hayano kebetulan beliau juga mantan kepala desa sarimbuah, beliau mengatakan “Untuk jumlah tuntutan ataupun gugatan yang menyangkut Hukum perampasan yang dalam bahasa dayak Ma’anyan kalteng dikatakan (Hukum Pamangkauan), kita tidak bisa mengambil keputusan saat ini sebab jumlah tersebut sudah tertuang dalam Buku dan aturan Adat yang ada” ungkap Hayano.

“Atas dasar hal tersebut maka berapapun jumlah tuntutan baru bisa disepakati jika pihak Pengurus Adat, Mantir adat dan Penghulu adat membacakan keputusan tersebut” lanjut Hayano.

Atas hal tersebut maka tuntutan yang diajukan oleh pihak suami belum bisa disepakati saat itu dan harus menunggu pertemuan selanjutnya pada tanggal 1 juni 2021 dirumah Bendahara DAD Desa Sarimbuah, dimana harus dihadiri oleh pihak Penghulu Adat dan Mantir adat desa Sarimbuah sekaligus menghadirkan pihak Mantir Adat Desa Kayumban yang berani menikahkan tanpa adanya surat perceraian yang dimaksud.(edi)

 3 Pembaca,  3 Hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *