KH Muhaiminan Gunardo Parakan Temanggung Pejuang Gigih Di Masa Silam Yang Menyisakan Semangat Perjuangan Kepada Kaum Milenial

Pelopor.Net - 3 November 2022 - 07:29 WIB
KH Muhaiminan Gunardo Parakan Temanggung Pejuang Gigih Di Masa Silam Yang Menyisakan Semangat Perjuangan Kepada Kaum Milenial
 (Pelopor.Net)
|
Editor redaksi

PELOPOR.net – Pekalongan – Almaghfurlah KH Muhaiminan Gunardo ulama besar tinggal di Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ia sangat peduli pada gonjang-ganjing bangsa. Maka ia pun berkeliling tanah air memimpin istighotsah, menghibur umat, memberikan nasihat kepada pemerintah. Jamaah istighotsah menyambut Muktamar Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) yang memadati Masjid Agung Al-Jami Kota Pekalongan baru saja menarik napas, setelah sebelumnya melantunkan syair Simthud Durar. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar. Di shaf terdepan, sesosok tegap berpakaian putih-putih, lengkap dengan serban dan jubah, tampak khusyuk melantunkan tawasul kepada para aulia pendiri tarekat. Menilik perawakan dan suaranya, orang seakan tak percaya bahwa usianya telah melampaui 83 tahun.

Pembacaan doa-doa istighotsah yang baru selesai sepertinya tak menyisakan keletihan di wajahnya yang selalu segar. Dialah KHR Muhaiminan Gunardo dari kaki Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Tema istighotsah malam itu, sebagaimana istighotsahnya yang lain ialah memohon keselamatan bangsa dari berbagai bencana yang belakangan menghantam bertubi-tubi. Semangat kebangsaan Pengasuh Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, ini memang luar biasa.

Usianya memang sudah cukup senja. Tapi kiprahnya semakin mengukuhkan profil ulama pejuang ini. Kepeduliannya akan gonjang-ganjing perjalanan bangsa mengantarkan langkahnya ke berbagai pelosok tanah air. Baik untuk memimpin istighotsah, ngayemi-ayemi (menghibur) umat, maupun memberikan nasihat langsung kepada pemerintah.

Mbah Minan, panggilan akrab KH Muhaiminan Gunardo, dilahirkan di Parakan, Temanggung. Beliau adalah keturunan Raden Santri salah seorang wali yang masih keturunan Pangeran Diponegoro. Beliau adalah pimpinan Pondok Pesantren Bambu Runcing Parakan, salah satunya pesantren yang dikenal sebagai pusat pendekar di zaman perjuangan Indonesia. Di Pesantren yang didirikan oleh kakek Beliau inilah nama senjata tradisional Bambu Runcing menjadi sangat terkenal dan ditakuti oleh penjajah Belanda.

Pada jaman perjuangan para pendekar sering berkumpul di Pesantren Parakan untuk mengatur strategi perjuangan melawan Belanda sekaligus diajarkan berbagai macam ilmu hikmah. Setiap kali berangkat berjuang selain ilmu beladiri para pendekar juga dibekali sebuah senjata yaitu ‘Bambu Runcing’, tetapi Bambu Runcing ini bukan bambu runcing biasa karena senjata ini telah diberi ‘Asma’ oleh kiai. Konon setiap kali dilemparkan bambu runcing ini tidak saja dapat membunuh lawan bahkan dapat meledak spt bom. Itulah salah satu Karomah Kyai Parakan. Sehingga bambu runcing menjadi sangat terkenal di seluruh jagad nusantara dan pada masa kolonial sangat ditakuti penjajah Belanda.

Laskar Hizbullah

Di masa-masa awal revolusi fisik itu, setiap hari ribuan pejuangan mampir ke Parakan dalam perjalanan mereka dari ke front-front pertempuran di Magelang, Ambarawa, Ungaran, dan Semarang. Beberapa di antaranya bahkan datang dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Barat. Adalah Kyai Subeki atau Mbah Subki yang pada saat itu berusia 90-an tahun, dimana magnet yang menarik para pencari ilmu hikmah ke jagad Parakan. Setelah wafat ia dijuluki Kyai Parak awal.

Sebelum berangkat ke medan pertempuran, para pejuang – rata-rata anak-anak anggota Lasykar Hizbullah – sowan kepada kyai sepuh yang sangat tawadhu ini. Agar senjata bambu runcing memiliki keampuhan, maka Mbah Subeki mendo’akan senjata tersebut yang senjata mereka dijamah sambil dibaca Bismillahi bi ‘aunillah. Ya Hafidz, ya Hafidz, ya Hafidz. Allahu akbar, Allahu akbar, Allah akbar (Dengan menyebut nama Allah, dengan pertolongan Allah. Wahai Zat yang Maha Menjaga, Allah, yang Maha Besar).

Begitulah ‘ijazah doa’ yang diberikan oleh Mbah Subeki kepada para pejuang, yang kemudian terbukti menambah keberanian dan rasa percaya diri di medan perang. Bahkan diyakini mendatangkan perlindungan Allah dari hujan peluru dan bom lawan. Sejak itu, setiap hari ribuan orang memasuki Parakan untuk nyuwuake (memohonkan doa) buat senjata mereka. Mulai dari bambu runcing, pestol, bedil, karaben, bahkan kanon.

Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren, mantan Menteri Agama KH Saifudin Zuhri antara lain menulis, di antara pasukan yang singgah ke Parakan terdapat anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari Banyumas pimpinan Kolonel Soedirman – yang belakangan menjadi panglima besar. Mereka membawa peralatan tempur lengkap. Ketika itu mereka dalam perjalanan ke medan perang Ambarawa.

Parakan sendiri daerah unik karena merupakan pertemuan berbagai budaya, sebagaimana diceritakan oleh Saifudin Zuhri, “Sejak tertangkapnya Pangeran Diponegoro, sisa-sisa prajurit Mataram dalam taktik mengundurkan diri bergerak menyusuri Kali Progo melalui daerah Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, dan akhirnya Parakan, sebuah persimpangan tapal batas Karesidenan Banyumas, Kedu, Pekalongan, dan Semarang.

Daerah dataran tinggi di kaki Gunung Sindoro itu menjadi tempat bertemunya bermacam-macam sisa prajurit Diponegoro dari berbagai daerah. Tidaklah mengherankan jika penduduk Parakan mempunyai unsur kebudayaan yang bercampur antara ketulusan rakyat Banyumas, kesabaran rakyat Kedu, keberanian rakyat Pekalongan, dan keterampilan rakyat Semarang.

Pencak Silat

Itulah Parakan, kota kecil tempat lahirnya KHR Muhaiminan Gunardo. Ia adalah putra Raden Abu Hasan, yang lebih dikenal dengan nama KH Sumomihardho – salah seorang keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II. Sementara ibundanya, Hj Mahwiyah adalah putri Kiai Badrun, sesepuh Parakan yang berpengaruh karena kedalaman ilmu agamanya.

Sejak muda, Kiai Muhaiminan – yang termasuk dalam forum Kiai Khos Langitan – gemar berolahraga, khususnya pencak silat yang digelutinya di sela-sela mengaji kepada beberapa ulama besar. Tamat Sekolah Rakyat di Parakan, ia mengaji kepada KH Dalhar alias Mbah Dalhar (Pesantren Watucongol, Magelang), ulama besar yang pernah selama delapan tahun berkhalwat – mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian pada ibadah (berzikir dan tafakur) kepada Allah SWT – di Gua Hira, tempat Rasulullah SAW melakukan hal yang sama, beruzlah. Mbah Dalhar juga dikenal sebagai Mursyid Tarekat Syadziliyah yang termasyhur.

Selepas dari Watucongol, Muhaiminan muda melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu kepada KH Maksum Lasem Rembang, Kiai Muhajir di Bendo Pare Kediri, lalu ke Pesantren Tebuireng, Jombang. Selain mengaji ilmu agama, di setiap pesantren yang disinggahinya Muhaiminan untuk mendalami ilmu pencak silat. Pendekar tangguh yang pernah menjadi gurunya, antara lain KH Nahrowi atau Ki Martojoto. Ia juga mendalami ilmu pencak silat di pesantren terakhir yang disinggahinya, yaitu Ponpes Dresmo Surabaya yang memang terkenal dengan keampuhan olah kanuragannya.

Mbah Minan dalam kesehariannya selalu menyempatkan diri mendidik ratusan santrinya dan mendampingi kurang lebih 30 orang pengajar. Terutama dalam mujahadah – dzikir untuk meraih derajat yang tinggi di sisi Allah – dan istighotsah setiap ba’da maghrib dan setiap malam Jumat dan Selasa Kliwon. Sementara pengelolaan sehari-hari pesantren yang berdiri pada 1955 itu diserahkan kepada sebuah kepengurusan yang dinamakan Idarah Ma’had Kiai Parak Bambu Runcing.

Idarah tersebut juga membawahkan beberapa lembaga yang mengurus kepentingan pesantren dan umat. Termasuk Lembaga Seni Bela Diri Garuda Bambu Runcing (LGBR), perguruan pencak silat yang mengajarkan dua jenis ilmu bela diri, yakni pencak silat sebagai bela diri fisik dan bela diri batin. LGBR tidak hanya diikuti para santri, tapi juga warga masyarakat umum. Hingga kini anggota aktifnya kurang lebih 45.000 orang, bahkan telah memiliki beberapa cabang di Jawa dan Sumatera.

Kemasyhuran Kyiai Muhaiminan Gunardo dan pesantrennya dalam dunia spiritual kalau dulu memang telah menjadi santer serta aktual di kalangan umat Islam, khususnya di daerah Jawa Tengah dan pada umumnya di jagad tanah Jawa. Di luar aktivitas keilmuan dan kanuragan, pesantren yang terletak di dataran tinggi eks Karesidenan Kedu di kaki Gunung Sindoro ini memang selalu ramai dikunjungi pengunjung, baik yang hendak berkonsultasi masalah kehidupan, berguru ilmu hikmah, maupun untuk mengaji tasawuf kepada Mbah Nan.

Ketika terjadi heboh pembunuhan terhadap para kiai dan santri pada 1999 – yang terkenal sebagai ‘kasus ninja’ karena pembunuhnya bertopeng seperti ninja – pesantren ini menjadi tujuan utama warga NU yang belajar membentengi diri. Barangkali memang sudah menjadi ketentuan Allah SWT bahwa ulama Parakan secara turun-temurun ditugasi menjadi benteng pertahanan terakhir umat dalam menghadapi berbagai kesulitan. Bisa dimaklum jika langkah Kyai Muhaiminan sepertinya masih harus panjang – selama keadaan Indonesia belum memenuhi harapan yang dicita-citakan para ulama pendahulunya.

Ahli Hikmah

Selama ini masyarakat lebih mengenal Mbah Minan selain sebagai alim ulama yang ahli di bidang agama juga memiliki keahlian di bidang ilmu hikmah. Tak sedikit yang berhubungan dengan beliau berkaitan dengan ilmu kekebalan untuk pertahanan diri bahkan tak sedikit yang berkaitan dengan kedudukan dan jabatan. Salah satu Karomah Kyai khos ini adalah ketika bermain pencak silat orang di sekitarnya merasakan tanah di sekeliling beliau bergetar seperti ada gempa bumi. Salah satu ilmu andalan Beliau adalah SASRA BIRAWA yaitu ilmu tenaga dalam yang dapat memecahkan benda keras dari jarak jauh seperti ilmu yang dimiliki Mahesa Jenar. Setiap Santri di Pesantren Parakan diajarkan ilmu pencak silat Garuda Bambu Runcing. Salah satu murid beliau yang dikenal sebagai pendekar di Kota Solo adalah Almarhum KH Hilal Adnan pimpinan Thoriqoh Syadziliyah di Solo Jawa Tengah. Mursyid Thoriqoh Syadziliyah dan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Mengikuti jejak gurunya, Kyaii Dalhar Watucongol, yang merupakan Mursyid Thoriqoh Sadziliyah yang memiliki banyak hikmah keistimewaan di dalamnya dan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang keduanya merupakan tarekat mu’tabarah yang dikenal dikalangan komunitas pegiat tarekat di tanah air Nusantara serta memiliki sanadnya yang jelas sampai ke Rasulullah SAW. Beliau, Almarhum juga pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Jami’yyah Thariqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyyah serta pimpinan thoriqoh Syadziliyah. Di organisai PBNU, Kyaii Minan menjabat sebagai Mustasyar. Bliau KH Muhaiminan Gunardo merupakan seorang tokoh panutan yang sangat dikenal masyarakat luas. Selain itu, beliau juga banyak memberikan sumbangan spiritual bagi kehidupan masyarakat khususnya di tanah Jawa.

Salah seorang putra almarhum, Kyai Chaedar mengatakan, ayahnya meninggal dunia, Selasa (2/10/2007) sekitar pukul 17.45 WIB di kediamannya. Almarhum setelah beberapa lama menderita sakit, di antaranya sesak nafas sehingga banyak mengurangi kegiatan di luar pondok. Almarhum juga sudah beberapa kali berobat di RS Kariadi Semarang dan menjalani terapi pengobatan alternatif di beberapa tempat di Salatiga.

KH Muhaiminan meninggalkan seorang istri, Hj Jayidah dan 6 orang anak, yakni: Suad Jauharoh, Kautsar, KH Chaedar, Hanif (almarhum), Nauval dan Baha. Menurut Chaedar, almarhum tidak banyak meninggalkan pesan. Dia hanya menekankan kepada para santri dan keluarga agar saling menghormati dan menjauhkan dari hal-hal kekerasan bila tidak terpaksa. Almarhum juga meminta para santrinya untuk selalu mematuhi petunjuk orang yang alim. Lahul Fatihah (dikutip dari berbagai sumber)

(Teuku imran)

 372 Pembaca,  3 Hari ini

Tinggalkan Komentar

Close Ads X