“Pola Korupsi dan Pengawasan Dana Desa”,

Pelopor.Net - 5 November 2022 - 16:59 WIB
“Pola Korupsi dan Pengawasan Dana Desa”,
 (Pelopor.Net)
|
Editor redaksi

PELOPOR.net – Kupang – Banyaknya penyelewengan dana desa, membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menengarai adanya modus dan pola yang sama. Misalnya, pengadaan barang dan jasa yang tidak sesuai ketentuan, fiktif.

Selain itu juga terjadinya mark up anggaran, mulai dari proses perencanaan yang tidak melibatkan masyarakat hingga memasukkan program yang sifatnya mengarah pada kepentingan pribadi.Sejak diberlakukan UU No 6 tahun 2014 tentang desa, desa telah diberikan kewenangan mengelola keuangan secara mandiri.

Ini baru terjadi sejak 72 tahun Indonesia merdeka.Di sisi yang lain, kewenangan ini tentu tidak mudah, apalagi desa belajar mengelola keuangan dan pembangunan secara mandiri dan swakelola.

Seiring dengan itu pula, sejak tahun 2015- 2022 berbagai potensi masalah terjadi. Konflik antar kelompok masyarakat terbangun. Di sisi yang lain, hubungan sosial menjadi renggang.

Selain pengawasan, minimnya pengetahuan dan kapasitas aparatur dalam melakukan pelaporan keuangan desa sesuai dengan aturan yang berlaku menjadi penyebab, termasuk lemahnya penggunaan aplikasi Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) yang sudah diluncurkan oleh Kementerian Desa.

Potensi konflik bukan hanya saja dipicu oleh kurangnya sumber daya aparatur dalam pengelolaan keuangan desa, tapi juga akibat moralitas yang minim serta kecurigaan masyarakat meningkat akibat kurangnya transparansi.

Efek tersebut bukan hanya berefek pada konflik social dan pembangunan desa tetapi juga berimbas pada terbukanya ruang korupsi di desa dengan berbagai bentuk dan pola. Di samping kontrol dan pengawasan masyarakat yang lemah.
Sebagian lainnya terpaksa masuk dalam jeruji besi akibat terbukti menyalahkan pengelolaan keuangan desa yang tidak sesuai dengan aturan.

Kasus ini terjadi di hampir kabupaten/kota yang ada di Indonesia
Bila dilihat dari banyaknya pola korupsi dana desa, memang sulit dihindari dengan berbagai faktor

(Edeltrudis Vinsensia Berek, Mahasiswa Prodi Ners Universitas Citra Bangsa Kupang/RS)

 1,062 Pembaca,  9 Hari ini

Tinggalkan Komentar

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Close Ads X