Pungkasiadi Ketua Koperasi Sebut, Secara Global Petani Tidak Ada Masalah Dengan Terdakwa

Pelopor.Net - 17 Maret 2022 - 08:31 WIB
Pungkasiadi Ketua Koperasi Sebut, Secara Global Petani Tidak Ada Masalah Dengan Terdakwa
 (Pelopor.Net)
|
Editor

PELOPOR.net – SURABAYA – Sidang perkara dugaan pemalsuan surat Delivery Order DO yang melibatkan Rosdiana sebagai terdakwa dengan agenda mendengar keterangan saksi meringankan (A De Charge) kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya Rabu (16/3/2022).

Dipersidangan tersebut, Penasehat Hukum terdakwa tampak menghadirkan, Pungkasiadi sebagai saksi yang meringankan terdakwa guna sampaikan keterangannya.

Adapun keterangan yang disampaikan, Pungkasiadi selaku, Ketua Koperasi wilayah Mojokerto yaitu, pihaknya sudah lama bermitra atau kerjasama dengan terdakwa.
Pada prinsipnya, semua lancar. Pada tahun
2011 dan 2012, pembayaran dana talangan seingatnya, hanya diawalnya saja ada keterlambatan karena butuh proses seminggu.

Lebih lanjut, saksi memaparkan, ketika ada keterlambatan pembayaran ke petani, pada prinsipnya, petani butuh dana guna operasional jika ada penundaan investor maka petani kerap tanya dan datangi ke kantornya karena butuh uang untuk operasional.

Pada 2012 petani hanya melihat Ali Sanjaya ada kerjasama dengan terdakwa. Melalui informasi di tahun 2012 Ali Sanjaya tiba-tiba memberi dana talangan hanya untuk memuluskan pendirian pabrik gula PT. Kebun Tebu Mas (KTM) di Lamongan maka
maka Ali Sanjaya mengandeng terdakwa.
” Sejauh ini, investor lokal diketahui petani hanya terdakwa guna melancarkan pabriknya yang baru Ali Sanjaya mengandeng terdakwa ,” bebernya.

Hal lainnya, disampaikan saksi yaitu, pabrik gula Ali Sanjaya yang ada di Lamongan, berbahan baku Raw Sugar dan tidak ada petani binaan.
Jika ada pabrik bahan baku Raw Sugar yang jelas petani menolak karena bahan baku Raw Sugar tidak akan bisa menaikkan harga gula petani.

Atas hal pabrik berbahan baku Raw Sugar, direaksi oleh, petani berupa, ada beberapa surat ke Pemerintah guna menanyakan bahwa gula petani untuk makanan atau konsumsi sedangkan, rafinasi gula yang berbahan Rawa Sugar untuk memenuhi kebutuhan pabrikasi.
” Raw Sugar dijadikan rafinasi gula dan bisa membanting harga gula petani ,” bebernya.

Pungkasiadi tak memungkiri, bahwa para petani dengan terdakwa sudah lama ada kerjasama sehingga, Ali Sanjaya mengandeng terdakwa maka pabrik yang dimaksud hingga sekarang beroperasi.

Terkait, posisi dana talangan, dikatakan saksi, yaitu, dana talangan dari investor ke petani guna operasional kemudian  selanjutnya, gula tetap di lelang secara terbuka.

Saksi juga sampaikan, bahwa petani tiap 5 bulan panen dsn dana talangan ini berpatok harga dasar gula pasir.
” Dana talangan diberikan petani berupa DO  tiap 2 Minggu sekali. DO ini diberikan, tatkala
tebu digiling pabrik ,” ungkap saksi.

Menyinggung ada dua DO dalam hal ini, saksi katakan, yang dimaksud DO dana talangan dengan DO pabrik saat giling tebu.
” Secara otomatis kita urus yang gula petani dana diberikan tiap 2 minggu sekali. Muncul dua DO karena bagi hasil dengan pabrik yang diterbikan tiap 2 minggu sekali ,” ujarnya.

Disinggung terkait, nama koperasi saksi sebagai Ketua menyampaikan, Koperasi Rosan Mapan dengan anggota ada 110 dan ada 10 koperasi yang bergabung.

Masih terkait dana talangan pada 5ahun 2012 ada masuk nama Ali Sanjaya. Sedangkan, nama perusahaan terdakwa diketahui saksi hanya PT.Agro.
” Yang dimengerti para petani PT.Agro,” ucapnya.

Dalam hal kerjasama dana talangan untuk pengunaan  musim giling bagi hasil ke petani dan PTPN.

Setelah Ali Sanjaya, beri dana talangan terbit DO yang dikelola petani setelah terbit DO diketahui saksi atas nama Koperasi Rosan Mapan yang diserahkan investor dan petani hanya ikatan kontrak, lalu gula dilelang.

Dari lelang, semua pemenang lelang belum tentu terdakwa namun, juga terkadang terdakwa. Bagi pemenang lelang gula bisa diambil setelah bayar lunas.
” Harga kisaran lelang gula diantara 8100 Ribu hingga 8300 Ribu ,” ungkap saksi.

Setelah pemenang lelang AMJ, DO diberikan ke petani yang tergabung di Koperasi Rosan Mapan serta sebagian lelang uang yang diterima petani klop alias tidak masalah.
” Secara global petani tidak ada masalah karena sudah klop alias tidak ada masalah,” papar saksi.

Hal keterkaitan Ali Sanjaya dengan terdakwa saksi mengetahui di wilayah kerja di Mojokerto.

Saksi juga menyebutkan, nilai nominal yang diterima saat musim giling yakni, 300 Milyard.

Pihak investor mendapatkan hak ekslusif sebesar 30 persen di serahkan pendana dalam bentuk gula harus membeli. Sisanya harga dilelang dengan harga pasaran.

(Nur)

 873 Pembaca,  12 Hari ini

Tinggalkan Komentar

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Close Ads X