Ruang Dan Problem Sosial Dalam Bahasa Seni Rupa

Pelopor.Net - 14 November 2022 - 18:58 WIB
Ruang Dan Problem Sosial Dalam Bahasa Seni Rupa
 (Pelopor.Net)
|
Editor redaksi

PELOPOR.net – Surabaya – Berbicara tentang kota Surabaya kita tidak bisa meninggalkan yang namanya kampung, disitulah budaya-budaya masyarakat akan terlihat dengan jelas, salah satunya adalah kampung Tambak Bayan, yang merupakan salah satu kampung lama, yang penghuninya kebanyakan masyarakat keturunan Tionghoa.

Masa lalu hingga kini, kita bisa melihat bahwa keluarga mereka mempunyai etos kerja dan semangat yang tinggi untuk bertahan hidup dari masa ke masa, bertahan untuk tetap mempertahankan lingkungan kampung yang semakin lama terdesak oleh kemajuan zaman.

Meskipun demikian keguyuban diantara mereka masih nampak, saat menjelang Imlek mereka tidak melupakan tradisi leluhurnya untuk memeriahkan bersama-bersama, baik dengan warga kampung maupun membuat kegiatan bersama warga di luar dengan berbagai cara, menghias, membuat lampion, mural dan lainnya.

Dari nara sumber Agus Koecink, seorang perupa dan penulis seni rupa, memaparkan tentang sosok perupa perempuan yang ingin merepresentasikan ruang problem sosial ke ruang yang tidak berhubungan dengan problem-problem yang dibawanya.

Perupa “Pingki Ayako” warga Surabaya, yang di temui awak media PELOPOR, dalam pameran tunggalnya di ArtLab Lounge, Jl. Darmo Kali 14 Surabaya, dalam tema Pameran Panjang Umur Kampung Tambak Bayan, di selenggarakan pada tanggal 12-18 November 2022.

Telah memindahkan problem sosial dalam ruang yang berbeda, dalam bentuk garapan karya yang terinspirasi dari masalah-masalah warga Tambak Bayan, dalam imajinasi yang dibangun secara bahasa seni rupa, dengan memunculkan daya artistik sosial baru yang dikolaborasikan ke dalam panggung baru.

Menurut Agus, Pingki sedang membangun suasana dan keindahan kedalam karya-karyanya, contoh saja dinamika perlawanan terhadap penggusuran, lokasi, kawasan, dan manusia akan dituangkan lewat bahasa seni rupa, sebuah karya cipta bentuk seni rupa yang dihadirkan, dengan menyatukan problem yang di dapati dalam ruang Tambak Bayan.

Dalam rangka pengembangan inspirasi tidak luput dari penggalian informasi, dengan jagongan bersama warga sekaligus tokoh masyarakat setempat, yang salah satunya adalah Suseno Karja, salah satu Ketua RT di wilayah itu (dalam photo).

Sebagai seni yang berbasis pada masalah sosial, dan keinginan perupa untuk mengangkat problem sosial tersebut, perlu kehati-hatian jangan sampai karya-karyanya melupakan problem yang dihadapi masyarakat kampung tersebut atau memang kepedulian terhadap masalah sosial, hanya berhenti pada tahapan keindahan yang diciptakan sang perupa, atau sebagai lintasan pergerakan proses penciptaan, yang berhenti dalam satu tahap tanpa memikirkan tahap berikutnya.

Pingki telah merajut semua itu dalam bahasa seni, dengan mewujudkan kembali bentuk-bentuk yang menurutnya hasil dari mengamati, dialog, dan daya imajinasinya tentang apa-apa yang dijumpainya dilingkungan tersebut, akan dituangkan dalam karya seni nya.

Pingki ingin menciptakan suasana tambak Bayan dalam ruang yang berbeda, agar terjadi dialog antara masyarakat dan ruang Tambak bayan lewat karya-karya Pingki, sebagai media mengingatkan, menyadarkan, dan merefleksi kembali bahwa sebuah kota dengan berbagai masalah sosial bisa dipecahkan bersama secara dialogis partisipasi dengan bahasa seni rupa, tutur Agus Koecink.

 

(Agwan/S)

 730 Pembaca,  3 Hari ini

Tinggalkan Komentar

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Close Ads X