Sektor Kuliner dan Batik di Kota Pekalongan Masih Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Pelopor.Net - 8 Maret 2022 - 11:20 WIB
Sektor Kuliner dan Batik di Kota Pekalongan Masih Tetap Eksis di Tengah Pandemi
 (Pelopor.Net)
|
Editor

PELOPOR.net – Pekalongan – Sektor kuliner dan perdagangan batik di Kota Pekalongan menjadi sektor yang mampu mendorong pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, berbagai sektor ekonomi cenderung terdampak menurun, namun di dua sektor kuliner tersebut justru tidak terlalu berdampak secara signifikan di masa pandemi Covid-19. Hal ini dikarenakan ketika ada sejumlah pembatasan aktivitas masyarakat, salah satunya beberapa sektor memberlakukan Work From Home (WFH), masyarakat tetap membutuhkan makanan ketika mereka sedang melakukan WFH.

Demikian yang diungkapkan oleh Kepala Dindagkop melalui Kabid Dindagkop-UKM, Nugroho Hepi Kuncoro, SE usai menghadiri kegiatan Pelatihan Kewirausahaan di Hotel Dafam Pekalongan, (7/3/2022).

“Kota Pekalongan ini unik khususnya di sektor kuliner, karena di sektor tersebut hampir efektif dampaknya selama pandemi tidak begitu signifikan dibandingkan sektor lainnya. Seperti diketahui, saat WFH, kebutuhan makan mereka justru tambah banyak. Yang tadinya cemilan-cemilan di kantor menjadi cemilan besar di rumah. Memang ada karakteristik produk kuliner yang diminati. Adanya pandemi atau tidak, masyarakat tetap membutuhkan makanan,” tuturnya.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain, sektor kuliner dan batik di Kota Pekalongan cenderung berdampak tetapi tidak se-ekstrem di daerah lain. Hal ini disebabkan para pelaku usaha di Kota Pekalongan mampu bertahan meski di tengah masa pandemi.

“Para pelaku usaha khususnya di sektor kuliner dan batik ini sudah terbiasa mengambil sebuah sikap yang cepat terhadap perubahan ini. Yang mungkin kemarin mereka penjualan batiknya mulai lesu, pelaku usaha ini bisa langsung muncul ide kreatif untuk menyesuaikannya seperti mengubah kain batik miliknya menjadi masker, daster atau piyama. Kepiawaian inilah yang tidak dimiliki pelaku usaha di daerah lain,” tegasnya.

Hepi menyebutkan, saat ini ada sekitar 23.123 UMKM di Kota Pekalongan. Dari Dindagkop-UKM sendiri menargetkan, dari jumlah tersebut secara bertahap akan diberikan pelatihan kewirausahaan di tahun 2022 ini sekitar 200 orang. Selain memberikan pelatihan untuk para pelaku usaha, Dindagkop juga akan tetap memberikan pendampingan terhadap para pelaku UMKM yang ada. Diharapkan dengan diadakannya kegiatan pelatihan maupun pendampingan ini, maka para pelaku usaha khususnya wirausaha pemula ini bisa lebih tahu tentang hal-hal apa saja yang diperlukan untuk menunjang usaha mereka.

“Setelah wirausaha pemula ini dilatih, salah satu yang ingin kami lakukan adalah UMKM yang masih awal ini akan dilatih manajemennya, teori-teori marketingnya, dan juga pembukuannya. Jadi, hal tersebut bisa menyemangati mereka ketika nanti sudah mapan dilevel itu, maka akan dinaikan ke level berikutnya yaitu tentang marketing online seperti melalui fasilitasi Brayan Market, Loka Pasar yang dimiliki oleh Dindagkop-UKM Kota Pekalongan,” ucap Hepi.

Salah satu pelaku usaha kuliner di Kota Pekalongan, Nur Anisa mengaku bersyukur meski di tengah pandemi, usaha katering miliknya masih tetap bisa berjalan. Hal ini ditunjang karena selain ia menawarkan melalui offline, Anisa juga mempromosikan dagangannya melalui online.

“Selama pandemi, Alhamdulillah tidak begitu berdampak, karena usaha kami membantu para ibu dalam menyediakan makanan rumahan. Awalnya usaha kami memang hanya di bidang snack, namun selama pandemi ini kami juga perluas untuk penyediaan makanan rumahan (katering). Adanya berbagai pelatihan dari Dindagkop-UKM Kota Pekalongan, kami merasa antusias dan mengucapkan terimakasih yang sudah memberikan kesempatan bagi kami untuk tetap eksis dan mengembangkan usaha,” pungkas Anisa.

(Kominfo / Tim)

 597 Pembaca,  6 Hari ini

Tinggalkan Komentar

Close Ads X